Akhirnya setelah 2 tahun, saya kembali lagi berkunjung ke Yogyakarta atau kota yang biasa saya bilang sebagai kota sejuta gudeg. Kota ini selalu memiliki daya tarik tersendiri untuk wisatawan, lokal maupun mancanegara. Beruntung di bulan ini ada beberapa libur long weekend, lumayan kan bisa liburan tanpa harus menghabiskan cuti, tapi konsekuensinya tempat liburan jadi ramah dan harga tiket pesawat agak kurang bersahabat sih.

Hampir di setiap kunjungan saya ke Jogja, saya menginap di daerah Soswrowijayan atau Prawirotaman. Kali ini, berbekal informasi dari teman blogger saya mengetahui ada hotel yang menarik berada di jalan Patangpuluhan daerah Wirobrajan, Jogjakarta. Lokasinya tidak terlalu jauh dari kawasan Keraton Jogja, bernama Yats Colony. Akhirnya nginep juga di hotel yang instagramable di Yogya *happpyyy*. 


Yats ini sendiri ternyata merupakan kebalikan dari STAY kalimat bahasa inggris yang berarti tinggal. Yang menarik, ada 5 tipe kamar di Boutique hotel ini yang masing-masing bernama HA, NA, CA, RA, KA. Hancaraka adalah sebutan untuk aksara serumpun di daerah Jawa. Kali ini kamar yang akan saya review adalah kamar dengan tipe RA.

RA room yang saya tempati berada di lantai dua dengan pemandangan ke kolam renang. Ukuran kamarnya 22 meter persegi dan tipe kasurnya sendiri ada yang 2 single beds dan 1 king size bed. Kamar di desain dengan dominasi warna putih yang membuat kamar tampak lebih clean dan stylish. Yang unik, beberapa barang di kamar terdapat label yang memiliki dua bahasa yaitu Jawa dan Bahasa Inggris. 

Beberapa artpiece yang terdapat di tiap kamar merupakan karya lokal loh, misalnya seperti centerpiece kayu dengan ilustrasi unik di dinding atas tempat tidur adalah karya Aditya Pratama (ilustrator Indonesia yang pernah terlibat proyek Berrybenka packaging dan ilustrator untuk buku Flavours of Bali) dan tempat anyaman putih untuk menyimpan toiletries yang didesian oleh Ayang Cempaka, ilustrator Indonesia yang saat ini tinggal di Dubai dan terkenal dengan goresan cat airnya yang cantik.

my RA twin beds room




Room signnya juga unik

Selain tipe kamar yang saya inapi ini, ada juga HA room dengan luas 36 meter persegi yang ternyata berbentuk kamar loft alias dua lantai di mana tempat tidur berada di lantai atas. NA room dengan luas yang juga 36 meter persegi dan dengan dua akses masuk, bisa melalui pintu utama kamar atau melalui area kolam renang. CA & KA room dengan luas 22 meter persegi sama seperti yang saya inapi yang berbeda, CA memiliki akses langsung ke kolam renang sedangkan KA terletak agak jauh dari area kolam renang. 

pool view dari jendela kamar



 Pool view di malam hari

Untuk ukuran kamar yang lebih luas dengan tipe kamar yang lebih unik, saya sarankan untuk memilih HA room. Sedangkan untuk yang datang bersama keluarga dengan anak-anak yang masih kecil saya sarankan untuk memiliki tipe NA room karena bisa langsung mendapatkan akses ke kolam renang dengan teras belakang yang juga asik untuk dipakai duduk-duduk.

Tiap-tiap kamar tidak diberikan fasilitas gelas, air botolan, teh, kopi dan cutlery sendiri, namun sebagai gantinya ada "refreshment corner" yang menyediakan barang-barang tersebut di atas dan dapat dipergunakan untuk tamu. Selain refreshment corner, fasilitas hotel lainnya juga lengkap, mulai dari free WiFi, toiletries lengkap, sepasang sendal, fresh towels, kolam renang, sunken deck, BBQ deck, penunjuk arah kiblat, ada musholla juga di arah belakang hotel, sedangkan untuk airport transferpool towels dan hair dryer upon request.

Saat ini, Yats Colony belum memiliki room service sehingga untuk beberapa makanan yang ingin dipesan dari restoran hanya dapat dilakukan pemesanan takeaway by phone untuk kemudian kita pick up sendiri di restoran. Restoran terletak di lantai dasar, menyambung dengan resepsionis yang juga merangkap sebagai kasir toko pernak-pernik dan kasir restoran+coffee shop "coffee smith". 



Sarapan di Yats juga ga kalah seru, selain menu utama yang bisa dipilih sendiri (nasi uduk, bubur ayam, eggs benedict) ada buffet untuk beberapa menu roti, sereal, buah dan minuman.  

Overall, I really had a great time at Yats Colony sampai-sampai saya tidak ingin pulang dan maunya tinggal di sini aja, hahahaha. Thanks to Kak Ika yang udah infoin hotel kece ini dan next trip ke Jogja maunya teteeeep nginep di sini lagi. I'm in love with this hotel too much.


Yats Colony
Jl. Patangpuluhan No.23, Wirobrajan
Daerah Istimewa Yogyakarta

Untuk di negara-negara yang memiliki empat musim, musim semi alias spring ini biasanya ditandai dengan mekarnya bunga-bunga dan mulai menghijaunya taman-taman di sekitar kota. Jika Jepang terkenal dengan suasana pink dari cherry blossom atau sakuranya dan Belanda tampak cantik dengan warna-warni tulipnya sebagai tanda musim semi datang, di Sydney dan beberapa kota besar di Australia juga memiliki bunga cantik sebagai penanda berakhirnya musim dingin. 


  Jacaranda di First Fleet Park, Circular Quay

Awal musim semi di beberapa tempat di penjuru Sydney akan mulai dipercantik oleh tanaman yang memiliki bunga berwarna ungu ini, yang bernama Jacaranda. Sama seperti bunga sakura, Jacaranda juga hanya berbunga setahun sekali. Tahun 2016 lalu, saya dan beberapa teman sempat menjadi Jacaranda hunter. Kami sempat berburu beberapa kota kecil untuk mencari jalanan yang sepanjang jalannya dipenuhi dengan bunga ungu ini.

Di tengah kota Sydney, pohon Jacaranda ini juga selalu mempercantik town hall dan Circular quay. Daerah-daerah lain yang juga tidak kalah cantik dengan adanya jejeran pohon ungu ini diantaranya, Paddington, Enmore, Kogarah, Erskineville, Redfern dan masih banyak lagi.

Cuma jalan beberapa meter dari Erskineville Train station bisa ketemu ini

Duh, bunga yang rontoknya udah banyak, ati-ati ya kalo keinjek, licin soalnya

Lagi-lagi sama seperti musim bunga sakura di Jepang, di Sydney juga sering saya jumpai orang-orang yang piknik di bawah rindang dan cantiknya pohon Jacaranda. Salah satu yang mungkin bisa kalian temukan di Frys reserve, Kogarah dan First fleet park, Circular quay. Salah satu teman saya juga ada yang sempat bikin acara farewell party di taman tersebut.

Mau piknik di bawah pohon Jacaranda? Mampir ke Frys Reserve, Kogarah


Bunga ungu ini sudah mulai tampak menghiasi kota sekitar bulan September, tapi jika kamu ingin lebih mudah lagi bertemu bunga cantik ini, saya sarankan untuk berkunjung di sekitar awal bulan November. 

Selain 2 taman yang saya sebutkan di atas, tempat kece lainnya untuk melihat Jacaranda ini diantaranya sepanjang Ashmore street di Erskineville, Great Buckingham Street di Redfern dan di beberapa jalan kecil di sekitar Paddington.



Sydney Town Hall jadi tambah cantik saat Jacaranda berbunga

Saya pernah saya bahas di Sydney Travel Guide part 1 "When is the best time to visit Sydney? dan saya menjawab semua musim merupakan waktu yang tepat untuk berkunjung ke Sydney. Well, sekarang kalian jadi punya alasan berkunjung ke Sydney pada musim semi juga kan?

Postingan kali ini mungkin saya tujukan buat pembaca yang wanita tapi untuk pembaca yang laki-laki juga ga ada salahnya kok untuk terus baca, siapa tau jadi bisa mengingatkan pacar atau istrinya saat lagi packing juga kan yah. 



Sebelumnya saya lebih sering menemukan artikel tentang packing dan barang-barang apa saja yang perlu dibawa atau ga boleh ketinggalan saat pergi jalan-jalan. Saya juga pernah share tips packing menggunakan infografis di artikel terdahulu tapi rasanya masih jarang yang share tips barang-barang khusus wanita. Apa aja sih barang-barang "wanita" yang sebaiknya selalu kita siapkan untuk bekal perjalanan?

Saya sebagai female traveler *tsaah* pastinya punya beberapa daftar barang khusus ini yang saya bawa ketika bepergian. Jangan sampai karena hal-hal kecil malah menganggu perjalanan seru kita, jadi lebih baik dipersiapkan sebelumnya. Berikut ini 5 barang-barang kewanitaan yang ga boleh ketinggalan saat packing versi geretkoper. 

1. Pembalut 
Saya kurang tau sih kebiasaan teman-teman pejalan perempuan yang lainnya namun saya biasanya sudah tau kapan kira-kira tanggal saya akan datang bulan dan ketika jangka waktu mulai datang bulan dirasa hampir bersamaan dengan jadwal perjalanan, saya selalu menyiapkan sedikitnya 4 pembalut di koper untuk jaga-jaga di hari-hari awal. Untuk kebutuhan kedepannya sih better beli di tempat tujuan supaya tidak terlalu menghabiskan space di koper. Selain pembalut mungkin ada juga beberapa yang lebih nyaman menggunakan tampon atau menstrual cup ya? boleh share juga dong pendapatnya untuk penggunakan dua benda tadi.

2. Obat-obatan 
sumber: pexels.com

Selain obat-obatan untuk beberapa sakit ringan seperti pilek, sakit kepala, pegal-pegal. Beberapa teman yang selalu merasakan "sakit" saat haid juga biasanya punya obat-obatan khusus seperti penghilang rasa sakit dan lebih baik obat ini juga selalu masuk check list saat sedang packing. Selain obat-obat berupa kapsul atau tablet, ada yang harus minum jamu juga ga sih? untuk ke beberapa negara lebih baik bawa yang kemasannya jelas dan tertera isi kandungan obatnya yah. Sebagai informasi, ada beberapa kasus turis yang ditanya-tanya petugas saat pemeriksaan barang bawaan setelah cap imigrasi di Sydney karena ditemukan beberapa obat-obatan yang tidak jelas kandungannya, jadi repot juga kan tuh kalo kita tidak bisa menjelaskan dengan baik.

3. Alat cukur
gambar: goodhousekeeping.com

Ada beberapa pejalan wanita yang mungkin menggunakan alat cukur untuk tindakan hair removal nya dan saya sarankan mungkin lebih baik dibawa dari kota asal ketimbang mencari di tempat tujuan. Saya sendiri sih membawa alat ini apabila akan melakukan perjalanan cukup lama biasanya lebih dari satu minggu. Selain alat cukur yang berupa memiliki pisau cukur atau silet ada juga yang berupa krim dan mungkin lebih praktis untuk dibawa. Perlu diingat apabila yang dibawa berupa pisau cukur khusus wanita, pastikan dimasukkan ke bagasi yah karena barang tersebut tidak bisa masuk ke kabin pesawat. 

4. Celana dalam ekstra
Maybe it sounds silly tapi saya selalu membiasakan diri untuk menyisipkan satu celana dalam ekstra di ransel atau tas yang digunakan saat day trip. Kadang ada saja keadaan "genting" yang terjadi di perjalanan, misalnya di berada tempat wisata dan tidak mungkin atau tidak ada waktu untuk balik ke penginapan untuk mengganti celana yang baru (misalnya: tembus saat haid). Kebiasaan ini sudah saya lakukan dari SMA loh, untuk tindakan preventif aja sih, tapi tidak jarang emang sangat berguna.

5. Sabun pembersih kewanitaan

Nah yang ini lebih penting lagi karena daerah miss V itu memang ga bisa asal-asalan. Dari cerita beberapa teman, ternyata ada beberapa yang menggunakan tissue basah. Aduh padahal penggunaan tissue basah untuk membersihkan area V harus dihindari loh, apalagi pH area kewanitaan itu berbeda dan tissue basah biasa malah bisa menyebabkan iritasi. Saat ini sih, sabun pembersih yang saya pakai Lactacyd dan pas banget beberapa saat yang lalu baru launching varian baru yaitu Lactacyd Herbal dengan ekstrak daun sirih, susu dan bunga mawar. Praktisnya lagi, Lactacyd herbal ada kemasan 60 ml yang pas banget buat dibawa bepergian.




Lactacyd herbal ini sudah teruji secara klinis dan dermatologi dapat digunakan 2 hari sekali dan setiap hari. Yang saya rasakan setelah menggunakan produk ini sih area V terasa kesat, lembut dan terawat. Kandungan ekstrak daun sirih, susu dan bunga mawar ternyata punya fungsinya sendiri dan bukan pilihan bahan sembarangan loh. Daun sirih sudah dikenal sejak lama sebagai bahan yang biasa digunakan untuk membersihkan serta melindungi area V dari gatal dan bau tidak sedap, sedangkan ekstrak susunya berperan untuk melembutkan kulit sekitar area V dan terakhir ekstrak bunga mawar dipilih untuk memberikan keharuman tahan lama dan merawat area V. Beruntung banget ada ini jadinya ga perlu khawatir sama kebersihan area V selama travelling, Female traveller? siapa takut :) #JadiYangKuMau #HaloLactacydHerbal.

Punya barang-barang kewanitaan lain yang seharusnya masuk ke list juga? share tips kamu juga dong.

Sebagai anak yang lahir dan besar di kota Jakarta bisa dibilang saya termasuk jarang bertemu dengan hewan-hewan liar yang ga umum. Paling sering juga ketemu hewan-hewan domestik seperti kucing, anjing, ayam, bebek, entok (duh kalian pasti penasaran kan di Jakarta bagian mana bisa ketemu bebek sama entok?). Untuk unggas yang bisa terbang paling sering paling hanya sebatas merpati burung gereja, burung kakak tua peliharaan yang lepas atau mungkin burung dara. Ternyata hal sesimpel 'jarang lihat macam-macam hewan liar' ini bisa menjadi kegembiraan besar loh ketika tahun lalu saya menginjakan kaki di Sydney.

Setelah sebelumnya mobil yang saya tumpangi sempat hampir menabrak wallaby yang menyebrang jalan saat akan ke Jenolan caves ,saya belum pernah lagi bertemu hewan 'liar' lain berkeliaran selain burung camar, belibis dan kakak tua. Kemudian saya sempat ingat ada seorang teman pernah menyebutkan bahwa ada beberapa tempat di Central Coast yang memungkinkan kita untuk bertemu beberapa hewan liar dan bermain dengan mereka dari jarak dekat, seperti Morriset yang terkenal dengan Kangguru liarnya.


Suasana di bus menuju The Entrance

Ternyata selain taman di Morriset, ada satu tempat lagi bernama The Entrance atau secara harfiahnya dalam bahasa Indonesia berarti "Pintu Gerbang Masuk". Ada apa sih di The Entrance? di sini  pengunjung bisa bertemu sekelompok Pelikan liar dan setiap harinya sekitar pukul 4 sore akan ada "feeding time session" yang diselenggarakan pemerintah setempat. Kegiatan ini bisa disaksikan oleh siapapun secara gratis. 

Beberapa bulan yang lalu, saat saya iseng mencoba naik kereta paling pagi ke arah Newcastle saya memutuskan untuk turun di Wyong dan melanjutkan perjalanan dengan Bis ke The Entrance. Hasilnya? saya kepagian ke tempat ini hahahah. Well gimana engga kepagian, saya sampai di The Entrance jam 7 pagi sedangkan kegiatan memberi makan Pelikannya baru mulai jam 4 sorenya.

Pertama kali ke The Entrance datangnya kepagian, Pelikannya masih di tengah-tengah

Untungnya ada satu Pelikan mau main ke pinggir

Kota ini tidak terlalu besar namun memiliki beberapa fasilitas menarik untuk pengunjung. Mulai dari taman bermain air gratis di waterfrontnya, taman yang penuhi rumput hijau di dekat tempat memberi makan Pelican hingga fasilitas sepeda berbayar yang bisa dipinjam pengunjung untuk berwisata di daerah sekitar (bahkan di Sydney ga ada nih kayak ginian).

Di pagi hari, para Pelikan itu berkumpul di tengah-tengah Danau Tuggerah yang ternyata saat sore harinya baru kelihatan bahwa di tengah-tengah itu ada "pulau" kecil. Perairan di danau ini terbilang tenang dan di sore hari airnya tampak sedikit surut sehingga ada beberapa orang yang nekat nyebrang ke pulau yang ada di tengah tadi demi selfie bareng para Pelikan. Saya? saya sih sibuk foto dan video-in Pelikan saat mereka ke pinggir aja. Main air pas lagi musim dingin bukan hal yang menarik kan yah? hihihihihi.

Saat jam memberi makan tiba dengan sendirinya pasukan Pelican ini mampir ke waterfront untuk berkumpul ke arah "pawang" yang sudah siap dengan beberapa ember besar berisi makanan lezat untuk mereka. Lucunya, si Pawang ini seperti memanggil nama mereka satu persatu, well saya sih agak sedikit sangsi "Ibu ini beneran namain Pelikan satu-satu atau hanya buat menarik pengunjung aja yaa?". Beberapa Pelikan tampak seperti berbaris sambil menunggu dikasih makan.


Pelikan aja mau berbaris rapih sambil nunggu dikasih makan

 Masih nyoba bersabar ngantri dikasih makan

 Ujung-ujungnya berebutan juga sih

Selama kurang lebih 45 menit, para Pelikan ini 'adu cantik' dan berebutan makanan di pinggir danau sambil sibuk meladeni selfie bareng pengunjung seperti saya ini. Jangan ditanya gimana perasaan saya saat itu, selain karena pas banget cuaca cerah sehingga foto-foto yang diambil jadi kece, saya senang luar biasa karena akhirnya bisa main bareng puluhan Pelikan ini di luar kebun binatang. Kapan lagi bisa main sedekat ini dengan Pelikan? yee kan?

Psst: Selfie bareng Pelikan ga mudah, saya sibuk ngejar-ngejar mereka dan tetap tidak berhasil 😅


Di negara-negara maju, subway atau kereta bawah adalah salah satu moda transportasi yang umumnya tersedia dan digunakan jutaan orang tiap harinya. Tidak hanya warga lokal, subway juga menjadi transportasi favorit turis karena cepat, murah, dan menjangkau hingga sudut kota. Akan tetapi, ada beberapa rute subway yang cukup rumit yang bisa membuat pusing para turis, salah satunya seperti yang ada di kota Tokyo. Citylab.com bahkan mengatakan bahwa sistem subway Tokyo merupakan rute paling rumit ketiga di dunia, di bawah New York dan Paris.

Tokyo Sky Tree - stasiun terdekat Oshiage (Tokyo Metro Hanzomon line & Toei Asakusa line)

Nah, sebelum pergi ke kota yang memiliki landmark Tokyo Tower dan Tokyo Sky Tree ini, ada beberapa informasi mengenai Tokyo Subway yang perlu kalian ketahui dan juga tips untuk memudahkan perjalanan kalian selama menggunakan subway.

1. Kenali berbagai jalur kereta dan perusahaan yang mengoperasikannya

Tokyo Subway diperasikan oleh dua operator berbeda, yaitu Tokyo Metro dan Toei Subway. Masing-masing operator tersebut memilik jalurnya sendiri. Tokyo Metro terdiri dari sembilan jalur, yaitu Ginza, Marunouchi, Hibiya, Tozai, Chiyoda, Yurakucho, Hanzomon, Namboku, dan Fukutoshin line sedangkan Toei Subway terdiri dari empat jalur, yaitu Asakusa, Mita, Shinjuku, dan Oedo line.

Kalau kalian ingin menggunakan tiket terusan harian (1-Day Open ticket), kalian dapat terlebih dahulu merencanakan jalur yang akan digunakan dalam satu hari tersebut. Tiket terusan untuk jalur-jalur Tokyo Metro saja dapat dibeli seharga 600 yen sedangkan untuk gabungan Tokyo Metro dan Toei Subway harganya 1000 yen. Tiket ini dapat diperoleh di vending machine di stasiun mana saja. Kalau pandai menggunakannya, kalian bisa menghemat beberapa ratus yen dibanding menggunakan e-money seperti Pasmo atau Suica. 

2. Rencanakan perjalanan dengan bantuan Smartphone

Unduh aplikasi route planner supaya tidak perlu pusing lagi mencari tahu cara pergi dari titik A ke B di peta yang rumit. Aplikasi Tokyo Metro Subway Map & Route contohnya, dapat menampilkan rute tercepat atau rute dengan paling sedikit transit yang dapat kalian ambil. Selain itu, ada juga Tokyo Subway Navigation for Tourists yang memiliki tampilan sederhana tapi memiliki informasi yang sangat lengkap, seperti rute, waktu tempuh, dan tarif perjalanan. Berita baiknya, aplikasi ini dapat juga digunakan secara offline dan menjadi poin plus bagi travelers yang tidak memiliki paket data atau tidak menyewa pocket wifi, karena tidak banyak tempat di Tokyo yang menawarkan koneksi wifi gratis.

Edo Tokyo Museum - stasiun terdekat Ryogoku (Toei Oedo line, exitA4)

3. Catat pintu Exit-mu

Saat menggunakan subway untuk mengunjungi lokasi wisata tertentu, sebelumnya jangan lupa untuk mencatat pintu keluar terdekat dari tempat yang dituju. Hal ini dikarenakan rata-rata tiap stasiun memiliki lebih dari satu pintu keluar dan jika salah memilih exit bisa-bisa kita tersasar sangat jauh dari tempat yang sebenarnya kita tuju. Biasanya stasiun-stasiun besar seperti Shibuya memiliki papan informasi dan panduan arah dalam bahasa inggris yang cukup jelas mengenai pintu keluar mana yang harus dipilih untuk menuju lokasi tertentu. Namun jika kalian ingin mendatangi tempat-tempat yang tidak terlalu touristy, ada baiknya mencari tahu terlebih dahulu pintu keluar mana yang paling dekat ke lokasi tersebut. 

4. When in Rome, do as the Romans do

Bagi travelers yang juga pengguna commuter line jakarta (kereta jakarta), mungkin sudah terbiasa dengan pemandangan orang-orang yang mengobrol atau menelepon di dalam kereta. Nah, dua kebiasaan ini sebaiknya dihindari saat menggunakan subway di Jepang. Mengobrol dengan teman tidak dilarang tapi usahakan untuk tidak terlalu berisik dan menggangu penumpang lain. Selain itu, di dalam kereta penumpang diharapkan untuk mengatur ponsel mereka ke dalam mode senyap (silent) atau manner mode. Berbicara di telepon merupakan hal yang dianggap tidak sopan dilakukan di transportasi umum tapi tenang saja, kegiatan-kegiatan lain seperti chatting atau main game boleh kok dilakukan. Oh ya, saat menggunakan eskalator di stasiun di Tokyo, berdirilah di sisi kiri eskalator jika hanya akan berdiri selama menggunakan eskalator karena sisi sebelah kanan diperuntukkan bagi orang yang berjalan. Kalau kalian berdiri di sisi kanan namun berdiri diam, kalian bisa menghalangi orang yang sedang terburu-buru mengejar kereta.

 Kaminarimon Sensoji Temple - stasiun terdekat Asakusa (Tokyo Metro Ginza line exit 1)

Tulisan ini merupakan guest post dari Halida Aisyah, thank you udah meramaikan geretkoper :3



Halida A.
Sangat suka berburu makanan manis, buku, dan festival. Senang bersepeda di mana saja. Baru pernah tinggal di Indonesia dan Jepang, tapi menganggap seluruh dunia adalah rumahnya.
Twitter: @___rubyslippers
Instagram: @___rubyslippers

Berawal dari postingan Kania di blognya tentang Hotel lucu di Bandung, saya menemukan sebuah konsep kamar yang unik dimana kamar tersebut bertipe "rooftop" yang salah satu dindingnya merupakan jendela kaca dengan sudut yang miring. Tangan ini langsung gatel cari-cari informasi tentang Beehive Boutique Hotel ini ke beberapa website pemesanan hotel. Awalnya saya kecewa karena tidak menemukan tipe kamar yang Kania sebutkan di postingannya. Karena keinginan main ke kamar "rooftop" ini tidak terbendung, saya akhirnya coba telepon ke hotelnya langsung untuk memesan kamar rooftop ini. (seumur-umur saya belum pernah booking hotel via telepon dan langsung ke hotelnya loh *sumpah*, maap norak).


Long story short, saya akhirnya berhasil memesan kamar rooftop ini plus langsung memastikan kamar yang saya inginkan yang mana. Hotel ini hampir serupa dengan Oliver's Hostelry, hotel yang pernah saya inapi sebelumnya di mana setiap kamar desainnya berbeda-beda. Oh iya for your info di hotel ini cuma ada 3 kamar dengan tipe rooftop.

Common Area

I would say this hotel is super INSTAGRAMABLE. Sedari awal masuk ke lobby aja, saya udah sibuk celingukan sana sini sambil senyum-senyum sendiri melihat lobbynya yang cantik. Lobbynya dikelilingi jendela kaca sehingga di siang hari pencahayaannya sangat terang, pemilihan furnitur dan barang-barang di lobby sudah seperti showcase Majalah Martha Stewart Living deh rasanya. I know I would love to spend some time in this area. Gak sampai di situ aja, ternyata hotel 5 lantai ini memiliki sudut cantik di tiap-tiap lantainya. Karena kamar saya kebetulan ada di lantai 4, saya melewati semua showcase ini dan pastinya selalu berhenti untuk foto-foto dulu.



Dreams don't work unless you do

Rooms

Secara keseluruhan tiap-tiap kamar di hotel ini mengusung tema Scandinavian dan dibagi lagi ke dalam 5 tema pilihan, Dusty Miller, Olive Green, Maiden Fern, Lily of The Valley dan Lily of The Nile. Untuk kamar rooftop hanya ada di tipe Lily of the Valley dan Lily of The Nile. Untuk tempat tidur juga ada pilihan twin bed dan double bed, buat yang suka bingung sama tipe kasurnya ini mending yang diinget salah satu aja, misalnya twin bed itu berarti terdiri dari 2 tempat tidur single.   



Kamar yang saya inapi bertema Lily of The Valley, ukuran kamarnya cukup luas dan ada akses ke balkon juga. Tiap-tiap kamar sudah dilengkapi dengan LCD TV kabel, tea & coffee corner, toiletries, hot & cold shower dan free WiFi. 

Saya sempat celingukan di kamar untuk mencari arah kiblat tapi ga ketemu juga. Sebenarnya bisa saja sih telepon ke front office untuk bertanya arah kiblat tapi kemarin akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan mobile apps compass.


Kamar-kamar cantik di hotel ini cocok banget untuk diinapi bersama teman atau keluarga, namun rasanya kurang cocok apabila kita membawa keluarga yang sudah berumur karena untuk akses ke kamar hanya menggunakan tangga, well kebayangkan kalo tiba-tiba dapat kamar seperti punya saya di lantai 4.



Di malam saya menginap di Beehive, hujan turun cukup lebat. Biasanya saya akan sedikit kesal jika saat liburan ternyata turun hujan, tapi kali in cukup berbeda dan meskipun hujan turun ternyata masih tetap menyenangkan. Kok bisa? Hotel ini satu area dengan dua restoran yang masih dalam manajemen yang sama yaitu Beehive cafe dan Kapulaga resto, jadi saat hujan turun sata tidak perlu khawatir kesulitan mencari makan malam. Selain itu, ternyata air hujan yang jatuuh dan mengalir di jendela kamar menjadi pemandangan unik tersendiri yang malam bikin betah lama-lama di kamar. The perks of having rooftop room theme *love love love*. Andai aja pemandangannya langsung hutan pinus atau lembah hijau yah.

Breakfast

Setelah check in, saya disodori selembar kertas berisi daftar menu sarapan yang bisa kami pilih untuk besok paginya. Awalnya saya pikir konsepnya akan sama seperti Oliver's yang diantar ke masing-masing kamar. Ternyata sarapan bisa dipilih untuk disantap di Beehive cafe atau di Kapulaga dan tentunya dengan memilih menunya terlebih dahulu. Ada 5 jenis menu diantaranya, Nasi uduk, Nasi goreng, Full beehive breakfast, egg & toast dan cereal. Tiap-tiap menu sudah termasuk minum, bisa dipilih antara kopi atau teh.

Saya memesan nasi goreng dan teman saya memesan full beehive breakfast yang ternyata disajikan lengkap dengan potongan buah juga. Menu nasi gorengnya sih standard lengkap dengan kerupuk, telor mata sapi, sosi sapi dan acar sedangkan full beehive breakfast sepertinya jadi menu yang paling banyak elemennya, mulai dari roti bakar, hash brown, telor mata sapi, beef bacon, sosis sapi, salad dan tumis jamur. 





  
Overall, saya suka pake banget menginap di hotel ini. Selain kamarnya yang cantik dan nyaman, lokasinya juga strategis dan hanya sejengkal dari jalan raya Dago (Jl. Ir. H Juanda). Mungkin untuk kerapihan kamar mandinya bisa ditingkatkan sedikit and it would be perfect :), kemarin saya rasanya agak kurang rapi tapi semoga cuma kamar saya aja sih. 


Jadi gimana? Kalian udah kepengen langsung pesan kamar di hotel ini untuk liburan selanjutnya di Bandung kan?





Beehive Boutique Hotel
Jl. Dayang Sumbi No 1 - 3, Bandung
(022) 2505801