Di negara-negara maju, subway atau kereta bawah adalah salah satu moda transportasi yang umumnya tersedia dan digunakan jutaan orang tiap harinya. Tidak hanya warga lokal, subway juga menjadi transportasi favorit turis karena cepat, murah, dan menjangkau hingga sudut kota. Akan tetapi, ada beberapa rute subway yang cukup rumit yang bisa membuat pusing para turis, salah satunya seperti yang ada di kota Tokyo. Citylab.com bahkan mengatakan bahwa sistem subway Tokyo merupakan rute paling rumit ketiga di dunia, di bawah New York dan Paris.

Tokyo Sky Tree - stasiun terdekat Oshiage (Tokyo Metro Hanzomon line & Toei Asakusa line)

Nah, sebelum pergi ke kota yang memiliki landmark Tokyo Tower dan Tokyo Sky Tree ini, ada beberapa informasi mengenai Tokyo Subway yang perlu kalian ketahui dan juga tips untuk memudahkan perjalanan kalian selama menggunakan subway.

1. Kenali berbagai jalur kereta dan perusahaan yang mengoperasikannya

Tokyo Subway diperasikan oleh dua operator berbeda, yaitu Tokyo Metro dan Toei Subway. Masing-masing operator tersebut memilik jalurnya sendiri. Tokyo Metro terdiri dari sembilan jalur, yaitu Ginza, Marunouchi, Hibiya, Tozai, Chiyoda, Yurakucho, Hanzomon, Namboku, dan Fukutoshin line sedangkan Toei Subway terdiri dari empat jalur, yaitu Asakusa, Mita, Shinjuku, dan Oedo line.

Kalau kalian ingin menggunakan tiket terusan harian (1-Day Open ticket), kalian dapat terlebih dahulu merencanakan jalur yang akan digunakan dalam satu hari tersebut. Tiket terusan untuk jalur-jalur Tokyo Metro saja dapat dibeli seharga 600 yen sedangkan untuk gabungan Tokyo Metro dan Toei Subway harganya 1000 yen. Tiket ini dapat diperoleh di vending machine di stasiun mana saja. Kalau pandai menggunakannya, kalian bisa menghemat beberapa ratus yen dibanding menggunakan e-money seperti Pasmo atau Suica. 

2. Rencanakan perjalanan dengan bantuan Smartphone

Unduh aplikasi route planner supaya tidak perlu pusing lagi mencari tahu cara pergi dari titik A ke B di peta yang rumit. Aplikasi Tokyo Metro Subway Map & Route contohnya, dapat menampilkan rute tercepat atau rute dengan paling sedikit transit yang dapat kalian ambil. Selain itu, ada juga Tokyo Subway Navigation for Tourists yang memiliki tampilan sederhana tapi memiliki informasi yang sangat lengkap, seperti rute, waktu tempuh, dan tarif perjalanan. Berita baiknya, aplikasi ini dapat juga digunakan secara offline dan menjadi poin plus bagi travelers yang tidak memiliki paket data atau tidak menyewa pocket wifi, karena tidak banyak tempat di Tokyo yang menawarkan koneksi wifi gratis.

Edo Tokyo Museum - stasiun terdekat Ryogoku (Toei Oedo line, exitA4)

3. Catat pintu Exit-mu

Saat menggunakan subway untuk mengunjungi lokasi wisata tertentu, sebelumnya jangan lupa untuk mencatat pintu keluar terdekat dari tempat yang dituju. Hal ini dikarenakan rata-rata tiap stasiun memiliki lebih dari satu pintu keluar dan jika salah memilih exit bisa-bisa kita tersasar sangat jauh dari tempat yang sebenarnya kita tuju. Biasanya stasiun-stasiun besar seperti Shibuya memiliki papan informasi dan panduan arah dalam bahasa inggris yang cukup jelas mengenai pintu keluar mana yang harus dipilih untuk menuju lokasi tertentu. Namun jika kalian ingin mendatangi tempat-tempat yang tidak terlalu touristy, ada baiknya mencari tahu terlebih dahulu pintu keluar mana yang paling dekat ke lokasi tersebut. 

4. When in Rome, do as the Romans do

Bagi travelers yang juga pengguna commuter line jakarta (kereta jakarta), mungkin sudah terbiasa dengan pemandangan orang-orang yang mengobrol atau menelepon di dalam kereta. Nah, dua kebiasaan ini sebaiknya dihindari saat menggunakan subway di Jepang. Mengobrol dengan teman tidak dilarang tapi usahakan untuk tidak terlalu berisik dan menggangu penumpang lain. Selain itu, di dalam kereta penumpang diharapkan untuk mengatur ponsel mereka ke dalam mode senyap (silent) atau manner mode. Berbicara di telepon merupakan hal yang dianggap tidak sopan dilakukan di transportasi umum tapi tenang saja, kegiatan-kegiatan lain seperti chatting atau main game boleh kok dilakukan. Oh ya, saat menggunakan eskalator di stasiun di Tokyo, berdirilah di sisi kiri eskalator jika hanya akan berdiri selama menggunakan eskalator karena sisi sebelah kanan diperuntukkan bagi orang yang berjalan. Kalau kalian berdiri di sisi kanan namun berdiri diam, kalian bisa menghalangi orang yang sedang terburu-buru mengejar kereta.

 Kaminarimon Sensoji Temple - stasiun terdekat Asakusa (Tokyo Metro Ginza line exit 1)

Tulisan ini merupakan guest post dari Halida Aisyah, thank you udah meramaikan geretkoper :3



Halida A.
Sangat suka berburu makanan manis, buku, dan festival. Senang bersepeda di mana saja. Baru pernah tinggal di Indonesia dan Jepang, tapi menganggap seluruh dunia adalah rumahnya.
Twitter: @___rubyslippers
Instagram: @___rubyslippers


Berawal dari postingan Kania di blognya tentang Hotel lucu di Bandung, saya menemukan sebuah konsep kamar yang unik dimana kamar tersebut bertipe "rooftop" yang salah satu dindingnya merupakan jendela kaca dengan sudut yang miring. Tangan ini langsung gatel cari-cari informasi tentang Beehive Boutique Hotel ini ke beberapa website pemesanan hotel. Awalnya saya kecewa karena tidak menemukan tipe kamar yang Kania sebutkan di postingannya. Karena keinginan main ke kamar "rooftop" ini tidak terbendung, saya akhirnya coba telepon ke hotelnya langsung untuk memesan kamar rooftop ini. (seumur-umur saya ngga pernah booking hotel via telepon dan langsung ke hotelnya loh *sumpah*)



Long story short, saya akhirnya berhasil memesan kamar rooftop ini plus langsung memastikan kamar yang saya inginkan yang mana. Hotel ini hampir serupa dengan Oliver's Hostelry, hotel yang pernah saya inapi sebelumnya. Di sini setiap kamar desainnya juga berbeda-beda. Oh iya for your info di hotel ini cuma ada 3 kamar dengan tipe rooftop.

Common Area



I would say this hotel is super INSTAGRAMMABLE. Sedari awal masuk ke lobby aja, saya udah sibuk celingukan sana sini sambil senyum-senyum sendiri melihat lobbynya yang cantik. Lobbynya dikelilingi jendela kaca sehingga di siang hari pencahayaannya sangat terang, pemilihan furnitur dan barang-barang di lobby sudah seperti showcase Majalah Martha Stewart Living deh rasanya. I know I would love to spend some time in this area. Gak sampai di situ aja, ternyata hotel 5 lantai ini memiliki sudut cantik di tiap-tiap lantainya. Karena kamar saya kebetulan ada di lantai 4, saya melewati semua showcase ini dan pastinya selalu berhenti untuk foto-foto dulu.

Dreams don't work unless you do



Rooms

Secara keseluruhan tiap-tiap kamar di hotel ini mengusung tema Scandinavian dan dibagi lagi ke dalam 5 tema pilihan, Dusty Miller, Olive Green, Maiden Fern, Lily of The Valley dan Lily of The Nile. Untuk kamar rooftop hanya ada di tipe Lily of the Valley dan Lily of The Nile. Untuk tempat tidur juga ada pilihan twin bed dan double bed, buat yang suka bingung sama tipe kasurnya ini mending yang diinget salah satu aja, misalnya twin bed itu berarti terdiri dari 2 tempat tidur single.   


Kamar yang saya inapi bertema Lily of The Valley, ukuran kamarnya cukup luas dan ada akses ke balkon juga. Tiap-tiap kamar sudah dilengkapi dengan LCD TV kabel, tea & coffee corner, toiletries, hot & cold shower dan free WiFi. 

Saya sempat celingukan di kamar untuk mencari arah kiblat tapi ga ketemu juga. Sebenarnya bisa saja sih telepon ke front office untuk bertanya arah kiblat tapi kemarin akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan mobile apps compass.


Kamar-kamar cantik di hotel ini cocok banget untuk diinapi bersama teman atau keluarga, namun rasanya kurang cocok apabila kita membawa keluarga yang sudah berumur karena untuk akses ke kamar hanya menggunakan tangga, well kebayangkan kalo tiba-tiba dapat kamar seperti punya saya di lantai 4.



Di malam saya menginap di Beehive, hujan turun cukup lebat. Biasanya saya akan sedikit kesal jika saat liburan ternyata turun hujan, tapi kali in cukup berbeda dan meskipun hujan turun ternyata masih tetap menyenangkan. Kok bisa? Hotel ini satu area dengan dua restoran yang masih dalam manajemen yang sama yaitu Beehive cafe dan Kapulaga resto, jadi saat hujan turun sata tidak perlu khawatir kesulitan mencari makan malam. Selain itu, ternyata air hujan yang jatuuh dan mengalir di jendela kamar menjadi pemandangan unik tersendiri yang malam bikin betah lama-lama di kamar. The perks of having rooftop room theme *love love love*. Andai aja pemandangannya langsung hutan pinus atau lembah hijau yah.

Breakfast

Setelah check in, saya disodori selembar kertas berisi daftar menu sarapan yang bisa kami pilih untuk besok paginya. Awalnya saya pikir konsepnya akan sama seperti Oliver's yang diantar ke masing-masing kamar. Ternyata sarapan bisa dipilih untuk disantap di Beehive cafe atau di Kapulaga dan tentunya dengan memilih menunya terlebih dahulu. Ada 5 jenis menu diantaranya, Nasi uduk, Nasi goreng, Full beehive breakfast, egg & toast dan cereal. Tiap-tiap menu sudah termasuk minum, bisa dipilih antara kopi atau teh.

Saya memesan nasi goreng dan teman saya memesan full beehive breakfast yang ternyata disajikan lengkap dengan potongan buah juga. Menu nasi gorengnya sih standard lengkap dengan kerupuk, telor mata sapi, sosi sapi dan acar sedangkan full beehive breakfast sepertinya jadi menu yang paling banyak elemennya, mulai dari roti bakar, hash brown, telor mata sapi, beef bacon, sosis sapi, salad dan tumis jamur. 



  
Overall, saya suka pake banget menginap di hotel ini. Selain kamarnya yang cantik dan nyaman, lokasinya juga strategis dan hanya sejengkal dari jalan raya Dago (Jl. Ir. H Juanda). Mungkin untuk kerapihan kamar mandinya bisa ditingkatkan sedikit and it would be perfect :), kemarin saya rasanya agak kurang rapi tapi semoga cuma kamar saya aja sih. 


Jadi gimana? Kalian udah kepengen langsung pesan kamar di hotel ini untuk liburan selanjutnya di Bandung kan?




Beehive Boutique Hotel
Jl. Dayang Sumbi No 1 - 3, Bandung
(022) 2505801

Lokasinya tak jauh dari sudut Lebuh Chulia yang bersimpangan dengan Jalan Masjid Kapitan Keling, yang artinya penginapan ini berada di jantung UNESCO World Heritage Site Georgetown. Artinya juga, lokasi jadi nilai jual utama penginapan dan jadi alasan penting bagi saya dalam memilihnya. Beberapa tempat ibadah ikonik berada dalam jangkauan berjalan kaki. Masjid Kapitan Keling tepat berada di seberang bangunan. Kuil Kwan Im, Shri Mahariamman Temple, dan Gereja Anglikan St George pun bisa didatangi kurang dari 10 menit berjalan. Selain tempat ibadah, beberapa landmark Penang pun berada tak jauh dari penginapan. Penang Peranakan Mansion, Penang Art & Gallery Museum, Little India, dan Lebuh Armenian yang hip dengan aneka mural pun ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Lokasinya yang tak jauh dari Jalan Masjid Kapitan Keling pun memiliki 1 keunggulan lain yakni tak jauh dari halte bus CAT yang membawa kita berkeliling inti kota Georgetown tanpa biaya sepeserpun.


 

Alasan lain yang membuat saya memilih The Frame Guesthouse adalah bentuk bangunannya. Shophouse tua yang telah direnovasi menjadi lebih minimalis, raw, dan chic. Front office yang memanjang hanya diisi 1 meja, 2 kursi, dan 1 karpet kecil namun tidak mengurangi nilai estetiknya. Beralih ke area pantry, nuansa kayu menambah keindahan ruangan yang tampak ‘tua’. Toilet & shower area pun dipoles dengan gaya layaknya tidak dipoles. Susunan bata diekspose telanjang tanpa diplester dan dicat menambah kesan ‘savage’.




Tak banyak fasilitas yang disediakan The Frame Guesthouse. Namun kebutuhan dasar akan sebuah penginapan seperti kamar tidur, pantry, shower, & toilet area dibangun dengan apik. Pemilihan furnitur dan penyusunannya menambah nilai kenyamanan karena tidak membuat sumpek bangunan tua yang hanya terdiri dari 3 lantai ini.



Jika telah selesai mengagumi dan menikmati hostel yang chic ini, monggo loh berjalan sedikit menyeberangi Lebuh Chulia untuk menikmati Nasi Kandar Beratur yang letaknya hanya beberapa langkah dari The Frame Guesthouse. Atau, ingin bercengkrama bersama teman sambil menyeruput secangkir kopi? Beberapa coffeeshop ternama tak jauh untuk dijelajahi. Tak butuh berkendara untuk mendatangi The Alley, Selfie Coffee, Mugshot Coffee, atau Moustache Houze.



The Frame Guesthouse

168 Lebuh Chulia, Georgetown, Penang

Tulisan ini merupakan guest post yang dibuat kak Ari - Eat|Play|Repeat
Yeaayyy penginapan favorit teman pejalan series balik lagi. Kalo sebelumnya yang dibahas adalah penginapan di Bandung dan Singapura, kali ini beberapa teman pejalan dan saya akan berbagi informasi tentang penginapan di Penang. 

Pulau Pinang atau yang lebih akrab disebut Penang ini, merupakan Negara bagian Malaysia yang bisa ditempuh dengan kereta selama kurang lebih 8 jam dari Kuala Lumpur. Naik keretanya cuma sampai Butterworth dilanjutkan naik feri ke Georgetown. Kultur yang ada di Penang juga sama beragamnya seperti di Kuala lumpur, bangunan-bangunan ruko atau yang biasa disebut shophouse juga banyak yang masih kental dengan asitektur cina peranakan.

Daerah penginapan yang paling favorit biasanya berada di Georgetown, di area ini banyak terdapat objek wisata dan mural-mural yang biasa jadi incaran para pejalan. Berikut ini ada beberapa teman pejalan akan berbagi informasi tempat menginap di Penang, siapa tahu bisa jadi ide buat kalian yang hendak berkunjung ke Penang.

1. Hotel Penaga - Meidiana Kusuma (ini aku sendiri :P)

 kirinya Jalan Hutton, kanannya Jalan Clarke

Ini penampakan kamar dengan 2 kamar tidurnya, hayoo ngeh ada yang "Indonesia" ga dari kamarnya?

Hotel ini terletak di perempatan Hutton street dan Clarke street. Uniknya hotel ini menjadi hotel heritage pertama yang mendapat predikat green rating loh. Meskipun beberapa bagian hotel tetap dijaga desain eksterior dan interiornya bergaya cina peranakan, namun beberapa bagian telah dimoderinisasi. Kamar di Hotel Penaga yang paling kecil ukurannya sudah luas banget dan ada juga kamar dengan 2 kamar tidur yang cocok untuk kalian yang bepergian dengan keluarga. 

Untuk perihal makanan juga ngga perlu khawatir, karena di dekat hotel banyak banget restaurant dan food court, beberapa malah masih buka sampai tengah malam. Untuk menuju perhentian free bus Penangnya juga hanya tinggal jalan menuju Jalan Penang aja. Recommended banget.

2. Spices Residence - Aggy DEWtraveller





Di daerah Georgetown ada penginapan yang bernama Spices Residence. Tempatnya strategis, cosy dan homy banget. Jumlah kamar yang ada di Spices residence tidak terlalu banyak sehingga aku ngerasa lebih nyaman dan tidak terganggu dengan tamu-tamu yang lain. Sejarah di balik bangunan Spices residence ini juga tidak kalah seru, bangunannya sendiri dibangun sekitar tahun 1700an dan awalnya tempat ini peruntukan untuk tempat 'camp' sementara para calon jemaah haji sebelum keberangkatan ke Mekkah. 

Tamu yang menginap di Spices Residence juga mendapatkan sarapan dengan menu khas lokal seperti nasi lemak yang dibungkus daun pisang serta menu pelengkap seperti samosa dan spring roll. 
Aggy   
Twitter :@dewtraveller
Instagram : @dewtraveller


3. Golden Sands Penang - Tesya


Untuk kalian yang mau berkunjung ke Penang bersama keluarga dan mau mencoba suasana di luar Georgetown, bisa juga menginap di daerah Batu Feringghi. Ada penginapan yang saya rekomendasikan bernama Golden Sands. Beberapa hal menarik dari hotel ini diantaranya, hotel yang langsung tersambung ke pantai, taman yang luas, kolam renang yang besar, ada kolam berenang khusus anak-anak lengkap dengan waterlsidenya, dekat dengan halte bus dan ada free shuttle ke Georgetown. 



Di dekat Golden Sands juga ada beberapa tempat makan sehingga kita ga kesulitan cari makanan seperti KFC (jauh-jauh ke Penang makannya KFC lagi :P) dan ada juga Long Beach hawker center.
Tesya
Blog : Tesyasblog
Twitter : @tesyasblog
Instagram : @tesyasblog

4. G Hotel Kelawai - Jennifer Tham


Salah satu pilihan hotel lain di Penang yang juga masih di dekat pusat kota adalah Hotel G Kelawai. Kamar-kamar di Hotel G ini baru saja di makeover dan beberapa furnitur diganti sehingga tampak lebih stylish. Tiap kamar mandi juga dilengkapi bath tub plus bath salt juga, seru!.

Untuk mendapatkan pemandangan terbaik dari kamar, sebaiknya kali meminta untuk mendapatkan kamar yang menghadap ke Gurney Drive. Soal belanja dan makanan juga tidak perlu khawatir, hotel ini terletak persis di samping Gurney Plaza dan Gurney Paragon sedangkan untuk city tour, di depan Gurney Plaza juga ada halte bus Penang hop-on hop-off.






Jennifer
Instagram : @sillyepiphany


5. The Frame Guesthouse - Ari


Lokasi The Frame Guesthouse terletak di 168 Lebuh Chulia, sebuah lokasi yang bisa dibilang sebagai jantung UNESCO World Heritage site Georgetown. Letaknya sangat strategis, Mesjid Kapiran Keling tepat berada di seberang bangunan sedangkan Kuil Kwan Im, Sri Mahariamman temple dan Gereja Anglican St George pun bisa didatangi kurang dari 10 menit berjalan.

Keunggulan lain dari penginapan ini adalah lokasinya yang tidak jauh dari halte bus CAT, bus lokal yang bisa membawa kita berkeliling Georgetown tanpa biaya sepeserpun. Tak banyak fasilitas yang disediakan The Frame Guesthouse. Namun kebutuhan dasar akan sebuah penginapan seperti kamar tidur, pantry, shower, & toilet area dibangun dengan apik. Pemilihan furnitur dan penyusunannya menambah nilai kenyamanan karena tidak membuat sumpek bangunan tua yang hanya terdiri dari 3 lantai ini. 


Ari
Twitter : @sy_azhari
Instagram :@ariazhari

6. Tune Hotel - Dita


source: tunehotels.com

Sepertinya hampir sebagian besar penginapan yang ada di sekitaran Georgetown adalah bangunan tua, terutama hostelnya. Nah, buat kalian yang agak parnoan dan kurang suka dengan 'bangunan tua' ini, Tune hotel bisa jadi pilihan. Akses ke hotel yang berlokasi di Jalan Burma ini juga terbilang mudah kok, selain lumayan dekat dengan Komtar, di depan Hotel ada bus stop yang dilewati bus no 103 menuju Gurney Drive, pusat kuliner Penang (ada 2 mall besar juga di dekat situ). Di sekitaran hotel juga ada beberapa coffee shop lucu yang bisa dicoba. Sekedar tips, usahakan pesan kamar dari jauh-jauh hari jadi harganya jauh lebih murah.


Dita
Twitter : @malesmandicom
Instagram : @malesmandicom


Listnya bukan cuma ini aja loh, akan terusss bertambah. Kamu punya tempat menginap favorit juga di Penang? ayo dong ikutan share bisa email ke aku atau DM ke akun social media yang lainnya ya.

Baca Juga:
Penginapan Favorit Teman Pejalan di Bandung
Penginapan Favorit Teman Pejalan di Singapura



Perjalanan ke Singapura bulan Januari lalu sebenarnya boleh dibilang dadakan dan penuh ketidaksiapan (bahasa apa ini?). Tiket pesawatnya dibeli satu bulan sebelumnya dan jujur hingga h-1 sebelum berangkat saya masih belum punya list tempat yang mau dikunjungi selain ke S.E.A Aquarium gara-gara penasaran sama Pokemon Research Centernya. Lucky me, teman sewaktu kuliah yang kurang lebih udah 6 tahun tinggal di Singapura bisa nemenin muter-muter kota di akhir pekan. Akhirnya secara dadakan juga kita mutusin untuk mampir ke daerah Tiong Bahru.

Kanopi hijaunya dijadiin patokan ya

Ada indoor dan outdoor seating

Pas banget lagi ada menu special dalam rangka lunar new year

Jam 9 pagi udah duduk cantik di bus arah ke Tiong Bahru plaza menuju meeting point kami di halte bus sebrang plazanya. Rencananya, hari itu kami memang ingin jalan-jalan di sekitar Tiong Bahru mulai dari Books Actually, Woods in the books, Plain Vanilla, Tiong Bahru market lalu berakhir di Tiong Bahru bakery. Bakery shop ini buka dari pukul 8 pagi hingga 8 malam dan selalu ramai pengunjung, terutama di pagi hingga waktu makan siang. Selain roti dan kue, tempat ini juga menjual makanan cukup 'berat' seperti beberapa varian burger, sandwich, rice bowl dan fritters. 

 I can smell fresh baked pastry inside the store

 Kalo ke sini lagi, mau cobain eclairnya ah

  Kesukaan aku Pain Au Chocolat dan Almond Croissant

Sewaktu sampai di Tiong Bahru Bakery kami harus sedikit menunggu sampai giliran kami tiba, yess pagi-pagi pun pine upnya udah lumayan panjang. Wangi roti yang baru keluar panggangan membuat saya ga sabaran untuk buru-buru makan. Ketika nama kami dipanggil, seorang staff menunjuk ke meja tempat kami duduk dan kemudian kamipun mulai mengantri untuk memilih menu. Iyess, di sini dapat tempat duduk dulu baru pilih kue atau rotinya di konter. Deretan pastry dan kue yang di pajang variatif banget, mulai dari plain croissant, pain au chocolate, almond croissant, green tea croissant, cinnamon roll, scone, sandwich, burger hingga kue-kue cantik seperti tarlet dan eclairs.

Berhubung agak lapar, akhirnya kami berdua memesan 3 pastry yaitu raisin scone, raisin cinnamon roll dan almond croissant (this one is my favorite). Seperti biasa, saya meminta croissantnya dihangatkan di oven kembali, yes this is how I eat my croissant.  

Kalian juga bisa pesan minuman seperti kopi, teh dan jus di Tiong Bahru bakery atau jika ingin air mineral, bisa dengan mudah kalian ambil di meja condiment lengkap dengan selai dan butter untuk pastry dan rotinya.

Raisin sconenya tidka terlalu manis sehingga cocok jika ingin ditambahkan selai. Cinnamon rollnya juga perfectly baked, glazynya bikin makin cantik dan rasa manisnya pas. Sedangkan buat saya Almon Croissantnya Star of the day banget, untung saya sempat minta direheat dulu sebelum disajikan, so it became fluffy on the inside and crunchy on the outside, not to mention the generous amount of almond slices.

Overall, I really love the place and the food, perfect for breakfast and brunch. Saya yakin bakalan balik lagi ke sini karena Almond Croissantnya emang juara banget dan hingga artikel ini saya tulis masih aja kebayang-bayang (duh jadi kepingin).

Here's our table situation, raisin scone, raisin cinnamon roll and almond croissant

Aku jatuh cinta sama front page websitenya Tiong Bahru Bakery

Tiong Bahru Bakery
56 Eng Hoon Street, Tiong Bahru
Singapore