Wajah Cantik Dinding Bogota

Saya masih terkapar kelelahan akibat perjalanan selama 9 jam untuk sampai ibu kota Kolombia, Bogota. Saat itu pukul 8 pagi dan host couchsurfing mempersilakan saya untuk beristirahat sebelum ia berangkat kerja. 

Kedatangan saya ke Bogota demi bertemu teman lama yang hampir tiga tahun tak bersua. Kebetulan ia baru akan sampai sehari setelah kedatangan saya. Oleh karena itu, hari pertama ini saya bebas berjalan-jalan sendirian. Tipikal orang yang tak punya rencana perjalanan saya pun bingung bagaimana caranya menghabiskan waktu di kota terbesar kedua di Amerika Selatan tersebut.

Seorang teman membisikan ide untuk mengikuti free walking tour di daerah Candileria. Berbekal informasi google, salaha satu tema walking tour yang ada adalah melihat-lihat grafitti dan mural. Waktu menunjukan pukul 11, saya pun langsung menghubungi Bogota Grafitti Tour yang memiliki jadwal tour pukul 2 siang.


Saya buta soal mural dan grafitti. Lebih tepatnya saya acuh akan karya seni yang satu ini. Namun, persepsi tersebut berubah ketika tour baru berjalan 30 menit. Saya jatuh cinta dan menikmati apa yang dirasakan oleh indera penglihatan ini.

Dipandu oleh Jay, kami berkeliling area Candileria yang penuh oleh kreasi tangan-tangan artis Kolombia maupun dari negara lain. Jay bilang setidaknya artis dari Australia, Amerika Serikat, Ekuador, dan beberapa negara lain yang saya lupa namanya gemar datang ke Bogota untuk berkreasi.

Cantik. Satu kata yang merepresentasikan karya seni tersebut. Tabrak warna antara cat dan tembok bangunan sangat memanjakan mata.



Umumnya karya seni yang ada sepanjang Candeleria mengangkat tema terkait masyarakat pribumi benua Amerika, khususnya Kolombia. Jay bilang tema di wilayah tersebut jauh dari politik. Maklum, memang wilayah ini sangat tourist friendly jadi sebisa mungkin tidak mengangkat isu sensitif.

Kemudian kami melangkah ke Calle 26. Di sinilah tema "berat" berada. Artis yang ingin mengeluarkan uneg-unegnya tentang kondisi sosial dan politik bebas berekspresi. Umumnya mereka menyindir soal cara pemilu yang tidak memihak rakyat pedesaan, atau soal bisnis pariwisata yang merupakan bentuk lain dari perbudakan. Ada juga yang menganggap kopi yang menjadi komoditas andalan Kolombia tidak memberikan manfaat banyak bagi para petani. 



Tour berakhir pukul 4.30 sore. walaupun pakai embel-embel "free walking tour", namun sejak awal Jay sudah menekankan kalau peserta yang lalu biasanya memberikan donasi sebesar 20-30 peso Kolombia atau sekitar 100-150 ribu rupiah. Saya tidak pernah merasa sepuas itu menghabiskan uang untuk sebuah tour. 

Jadi kalau berniat mengenal Bogota lebih jauh saya sih merekomendasikan untuk ikut grafitti dan mural tour ini.

Tulisan ini merupakan guest post dari Efi Yanuar, thank you udah meramaikan geretkoper :3













Baca keseruan perjalanan Efi di Kolombia di Blognya raunround.wordpress.com jangan lupa follow IGnya juga yaa @efi.yanuar 

Saat berkunjung ke Semarang, menginap di Ibis Hotel budget bisa dijadikan salah satu pilihan. Highlight utama dari hotel ini, I might say location!

Berlokasi di jalan Kapten Tendean, you won't miss this PURPLE building for a far. Hotel yang masih berada di bawah naungan Accor group ini memiliki beberapa lokasi di Indonesia, selain di Semarang ibis budget juga hadir di Jakarta, Bandung dan Surabaya.

Rooms

Hotel Ibis Budget di Semarang ini memiliki tiga jenis kamar yang berbeda dengan luas kamar yang sama, kamar standar dengan 1 double bed, kamar standard dengan 2 single beds dan kamar standard dengan 1 double bed plus 1 bunk bed. Yes you hear me right, bunk bed! dan dengan adanya bunk bed itu okupansi kamarnya jadi bisa maksimal bertiga yeah!! Fasilitas di tiap-tiap kamar juga sama seperti 24" LCD TV dengan tv kabel, free WiFi, standing shower, separated toilet, mineral water dan fresh towel. 



Breakfast

Tempat sarapan ada di lantai dasar satu lantai dengan lobby hotel. Sarapan di Ibis Budget ini disediakan dari jam 6 hingga jam 10 pagi. Beberapa pilihan makanan juga bisa dipilih tamu, seperti buffet yang biasanya terdiri dari nasi, lauk utama dan sayuran. Ada juga pojok roti yang menyiapkan roti tawar, toaster dan beberapa jenis selai. Sarapan juga lengkap dengan buah-buahan potong segar dan minuman seperti teh dan kopi.


Things To Do

Dari hotel ini ada beberapa tempat wisata dan tempat makan seru yang dibisa dikunjungi hanya dengan berjalan kaki, misalnya seperti Kedai es krim Zangrandi yang terletak tidak jauh di belakang hotel, belanja wifecake yang lagi heboh banget di Instagram yang terletak bersebrangan dengan hotel, mengunjungi Lawang Sewu hingga ke Kampung Pelangi yang lagi terkenal banget.

One more thing, saat ini kan udah jamannya ojek dan taxi online, nah kebetulan salah satu taxi online ada yang "berkantor" di gedung hotel ibis ini, jadi untuk pemesanan juga jauh lebih mudah karena biasanya ada beberapa driver yang kebetulan berlokasi di tempat tersebut. Jadi buat yang jalan-jalan dan tidak menyewa mobil juga ga perlu kebingungan untuk pergi ke sana sini deh.

*sebagian gambar bersumber dari www.ibis.com
Di beberapa social media pribadi saya, jika beberapa dari kalian ada yang follow social media saya, mungkin pernah beberapa kali saya share tentang bagaimana saya bahagia dan amat terbantu dengan transportasi di Sydney yang sungguh reliable. Well, gimana engga? jadwal bisa dicek di apps, tujuan tiap bus titik berhenti bisa dicek di apps, historikal penggunaan kartu opal bisa dicek, dan yang paling terpenting dari itu semua sebenarnya adalah jangkauan dari transportasinya. Sebagian besar objek wisata di Sydney dan sekitar dapat dijangkau dengan menggunakan transportasi umum, mulai dari bis, kapal feri, tram, hingga kereta. Sebagai salah satu yang beruntung bisa merasakan tinggal di daerah ini selama setahun, hal tersebut tentunya banyak membantu saya mengunjungi tempat-tempat seru.

Selain ke objek-objek wisata utama Sydney, tempat lain yang juga ga kalah menarik untuk dikunjungi adalah mercusuar atau lighthouse yang cukup banyak tersebar di negara bagian New South Wales terutama di sekitar Sydney. Berikut ini beberapa mercusuar/ lighthouse yang bisa kalian kunjungi saat berkunjung ke Sydney, Australia.

Hornby Lighthouse

Mercusuar Hornby ini sebenarnya adalah mercusuar pertama yang saya ingin kunjungi dari daftar mercusuar lain yang saya miliki. Kenapa? karena warna mercusuar ini beda dibandingkan dengan yang lain. Umumnya lighthouse yang saya ketahui berwarna putih, misalnya seperti mercusuar di Pulau Lengkuas, Belitung. Namun Hornby ini beda, warnanya merah dan putih dan percaya apa engga waktu pertama kali saya lihat mercusuar ini mengingatkan saya dengan tenda sirkus.

Meskipun ini merupakan mercusuar pertama yang sedari awal ingin saya kunjungi di Sydney, kenyataannya saya malah baru ke sini di bulan ke tujuh saya tinggal di Sydney. Padahal untuk menuju ke tempat ini tidak sulit bahkan ada dua jenis transportasi umum yaitu kapal feri dan bis yang bisa mengantar kalian ke lokasi terdekat dan kemudian disambung dengan trekking ke puncak. Kalo dibandingkan dengan mercusuar yang lain, Hornby lighthouse ini jauh lebih pendek yang ternyata memang sengaja dibuat seperti itu karena letak si mercusuar yang sudah tinggi di atas bukit. Hornby lighthouse ini terletak di Watsons Bay dan masih di dalam area Sydney Harbour National Park.

2. Barrenjoey Lighthouse

Sama seperti Hornby, tinggi mercusuar Barrenjoey juga tidak seperti mercusuar kebanyakan. Lagi-lagi karena letak si mercusuar ini yang sudah di atas bukit, bahkan sepertinya bukitnya lebih tinggi dari tempat mercusuar Hornby berada. Perjalanan menuju Palm Beach, tempat di mana mercusuar ini berada juga lumayan jauh dan harus saya tempuh kurang lebih 2 jam setengah dari Sydney CBD dengan menggunakan bis. 2 jam perjalanan tersebut murni karena jaraknya yang jauh bukan karena macet di jalan loh, kebayang capenya deh melihat supir bis yang ga kunjung berhenti, hahahaha. 

Trekking menuju Barrenjoey lighthouse menurut saya juga termasuk menantang karena di beberapa titik akan ada path dengan sudut kemiringan hingga 50 derajat. Menyerah di tengah jalan? please jangan karena trust me semua perjuangannya akan terbayar begitu kalian sampai di atas dan melihat keindahan dari atas Barrenjoey Head. Bahkan menurut informasi ada salah satu sudut Barrenjoey head yang biasa digunakan pengunjung untuk melihat paus saat masanya migrasi *kayaknya pas musim dingin deh*. Ah iya, ternyata bangunan mercusuar yang ada saat ini sudah "dipindahkan" beberapa meter dari letak awalnya.


3. Kiama Lighthouse

Mercusuar yang satu ini terletak di sebelah selatan Sydney dan dapat ditempuh dengan kereta ekspres ke Kiama sekitar 3 jam dari Central station. Objek wisata utama di Kiama sebenarnya bukan mercusuar ini, melainkan Kiama Blow hole yang ada lebih ujung dari letak mercusuarnya, but you surely won't miss this building. 

Nah mercusuar yang ini baru nih warnanya putih seperti mercusuar kebanyakan, beberapa mercusuar ada jam buka untuk guided tournya tapi kurang ngeh sama yang satu ini sih mungkin karena kemarin mampir ke Kiama emang bukan ke sini tujuan utamanya. Would you believe me jika waktu itu kami menempuh jarak ratusan kilometer ke Kiama untuk beli Pizza, duduk di rerumputan sambil makan pizzanya lalu menuju Kiama Blow hole buat foto-foto dan langsung bergegas kembali ke stasiun untuk mengejar kereta ke Sydney supaya ga kemaleman?. ahhahah this is how I spent my random free day in Sydney with fellow Sydneysiders.


4. Macquaire Lighthouse
 Bangunan bawah mercusuar berbentuk persegi panjang

Satu lagi mercusuar yang lokasinya ternyata ga terlalu jauh dari Hornby lighthouse cuma sekitar 3 kilometer. Terletak di Vaucluse, mercusuar ini menjadi mercusuar pertama yang saya kunjungi dengan hanya menggunakan bis dan jarak dari halte bis ke mercusuarnya deket banget, ga pake jalan jauh dan cape. Lokasinya juga berada di kawasan elite Vaucluse, hanya tinggal menyebrang jalan aja udah sampe ke rumah warga. Ada yang menarik nih sama bangunannya Macquaire Lighthouse, di saat beberapa mercusuar lain bentuk bangunannya tinggi seperti tabung hingga ke bawah, Macquaire Lighthouse memiliki lantai dasar yang berbentuk persegi panjang seperti rumah namun tetap memiliki menara.

Jika dilihat dari kejauhan, tetap tampak seperti bangunan mercusuar lain

Ada yang berbeda dari beberapa tempat mercusuar lain, sedikit ke arah utara dari mercusuar ini kalian bisa menemukan tebing yang dikelilingi oleh pagar pembatas. Di sekitaran pagar pembatas banyak ditempel plat bertuliskan nomor lifeline hingga tulisan kutipan kalimat inspirasi penyemangat hidup. Ada teman yang cerita di sekitar tempat tersebut hingga ke tebing di dekat Watsons bay memang terkenal sebagai tebing jadi sering dijadikan tempat untuk terjun bebas (bunuh diri) di Sydney, ihh kok syereemm. 
 
5. Fort Denison Lighthouse

Karena letaknya yang berada di sebuah pulau sepertinya ini jadi satu-satunya mercusuar yang tidak benar-benar saya kunjungi hanya saya lewati saat sedang berada di atas kapal feri. Bukan tidak mungkin sih untuk menginjakkan kaki ke Fort Denison karena memang ada beberapa acara khusus yang digelar di Fort Denison. Sedangkan untuk kunjungan umumnya, Fort Denison hanya bisa dikunjungi oleh para peserta Captain Cook Cruise yang berangkat dari Circular Quay Ferry terminal atau mereka yang sudah reservasi untuk bersantap di restoran yang ada di Fort Denison ini. 

Jika melihat di asal usul rocky island ini, Fort Denison pernah memegang peranan penting seperti stasiun pengecekan ombak dan cuaca, sebagai salah satu petunjuk navigasi hingga sebagai salah satu bangunan pertahanan. Saat ini, Fort Denison selain memiliki sebuah restoran juga dapat di booked untuk acar tertentu dan memiliki sebuah museum.

Akhirnya setelah 2 tahun, saya kembali lagi berkunjung ke Yogyakarta atau kota yang biasa saya bilang sebagai kota sejuta gudeg. Kota ini selalu memiliki daya tarik tersendiri untuk wisatawan, lokal maupun mancanegara. Beruntung di bulan ini ada beberapa libur long weekend, lumayan kan bisa liburan tanpa harus menghabiskan cuti, tapi konsekuensinya tempat liburan jadi ramah dan harga tiket pesawat agak kurang bersahabat sih.

Hampir di setiap kunjungan saya ke Jogja, saya menginap di daerah Soswrowijayan atau Prawirotaman. Kali ini, berbekal informasi dari teman blogger saya mengetahui ada hotel yang menarik berada di jalan Patangpuluhan daerah Wirobrajan, Jogjakarta. Lokasinya tidak terlalu jauh dari kawasan Keraton Jogja, bernama Yats Colony. Akhirnya nginep juga di hotel yang instagramable di Yogya *happpyyy*. 


Yats ini sendiri ternyata merupakan kebalikan dari STAY kalimat bahasa inggris yang berarti tinggal. Yang menarik, ada 5 tipe kamar di Boutique hotel ini yang masing-masing bernama HA, NA, CA, RA, KA. Hancaraka adalah sebutan untuk aksara serumpun di daerah Jawa. Kali ini kamar yang akan saya review adalah kamar dengan tipe RA.

RA room yang saya tempati berada di lantai dua dengan pemandangan ke kolam renang. Ukuran kamarnya 22 meter persegi dan tipe kasurnya sendiri ada yang 2 single beds dan 1 king size bed. Kamar di desain dengan dominasi warna putih yang membuat kamar tampak lebih clean dan stylish. Yang unik, beberapa barang di kamar terdapat label yang memiliki dua bahasa yaitu Jawa dan Bahasa Inggris. 

Beberapa artpiece yang terdapat di tiap kamar merupakan karya lokal loh, misalnya seperti centerpiece kayu dengan ilustrasi unik di dinding atas tempat tidur adalah karya Aditya Pratama (ilustrator Indonesia yang pernah terlibat proyek Berrybenka packaging dan ilustrator untuk buku Flavours of Bali) dan tempat anyaman putih untuk menyimpan toiletries yang didesian oleh Ayang Cempaka, ilustrator Indonesia yang saat ini tinggal di Dubai dan terkenal dengan goresan cat airnya yang cantik.

my RA twin beds room




Room signnya juga unik

Selain tipe kamar yang saya inapi ini, ada juga HA room dengan luas 36 meter persegi yang ternyata berbentuk kamar loft alias dua lantai di mana tempat tidur berada di lantai atas. NA room dengan luas yang juga 36 meter persegi dan dengan dua akses masuk, bisa melalui pintu utama kamar atau melalui area kolam renang. CA & KA room dengan luas 22 meter persegi sama seperti yang saya inapi yang berbeda, CA memiliki akses langsung ke kolam renang sedangkan KA terletak agak jauh dari area kolam renang. 

pool view dari jendela kamar



 Pool view di malam hari

Untuk ukuran kamar yang lebih luas dengan tipe kamar yang lebih unik, saya sarankan untuk memilih HA room. Sedangkan untuk yang datang bersama keluarga dengan anak-anak yang masih kecil saya sarankan untuk memiliki tipe NA room karena bisa langsung mendapatkan akses ke kolam renang dengan teras belakang yang juga asik untuk dipakai duduk-duduk.

Tiap-tiap kamar tidak diberikan fasilitas gelas, air botolan, teh, kopi dan cutlery sendiri, namun sebagai gantinya ada "refreshment corner" yang menyediakan barang-barang tersebut di atas dan dapat dipergunakan untuk tamu. Selain refreshment corner, fasilitas hotel lainnya juga lengkap, mulai dari free WiFi, toiletries lengkap, sepasang sendal, fresh towels, kolam renang, sunken deck, BBQ deck, penunjuk arah kiblat, ada musholla juga di arah belakang hotel, sedangkan untuk airport transferpool towels dan hair dryer upon request.

Saat ini, Yats Colony belum memiliki room service sehingga untuk beberapa makanan yang ingin dipesan dari restoran hanya dapat dilakukan pemesanan takeaway by phone untuk kemudian kita pick up sendiri di restoran. Restoran terletak di lantai dasar, menyambung dengan resepsionis yang juga merangkap sebagai kasir toko pernak-pernik dan kasir restoran+coffee shop "coffee smith". 



Sarapan di Yats juga ga kalah seru, selain menu utama yang bisa dipilih sendiri (nasi uduk, bubur ayam, eggs benedict) ada buffet untuk beberapa menu roti, sereal, buah dan minuman.  

Overall, I really had a great time at Yats Colony sampai-sampai saya tidak ingin pulang dan maunya tinggal di sini aja, hahahaha. Thanks to Kak Ika yang udah infoin hotel kece ini dan next trip ke Jogja maunya teteeeep nginep di sini lagi. I'm in love with this hotel too much.


Yats Colony
Jl. Patangpuluhan No.23, Wirobrajan
Daerah Istimewa Yogyakarta

Untuk di negara-negara yang memiliki empat musim, musim semi alias spring ini biasanya ditandai dengan mekarnya bunga-bunga dan mulai menghijaunya taman-taman di sekitar kota. Jika Jepang terkenal dengan suasana pink dari cherry blossom atau sakuranya dan Belanda tampak cantik dengan warna-warni tulipnya sebagai tanda musim semi datang, di Sydney dan beberapa kota besar di Australia juga memiliki bunga cantik sebagai penanda berakhirnya musim dingin. 


  Jacaranda di First Fleet Park, Circular Quay

Awal musim semi di beberapa tempat di penjuru Sydney akan mulai dipercantik oleh tanaman yang memiliki bunga berwarna ungu ini, yang bernama Jacaranda. Sama seperti bunga sakura, Jacaranda juga hanya berbunga setahun sekali. Tahun 2016 lalu, saya dan beberapa teman sempat menjadi Jacaranda hunter. Kami sempat berburu beberapa kota kecil untuk mencari jalanan yang sepanjang jalannya dipenuhi dengan bunga ungu ini.

Di tengah kota Sydney, pohon Jacaranda ini juga selalu mempercantik town hall dan Circular quay. Daerah-daerah lain yang juga tidak kalah cantik dengan adanya jejeran pohon ungu ini diantaranya, Paddington, Enmore, Kogarah, Erskineville, Redfern dan masih banyak lagi.

Cuma jalan beberapa meter dari Erskineville Train station bisa ketemu ini

Duh, bunga yang rontoknya udah banyak, ati-ati ya kalo keinjek, licin soalnya

Lagi-lagi sama seperti musim bunga sakura di Jepang, di Sydney juga sering saya jumpai orang-orang yang piknik di bawah rindang dan cantiknya pohon Jacaranda. Salah satu yang mungkin bisa kalian temukan di Frys reserve, Kogarah dan First fleet park, Circular quay. Salah satu teman saya juga ada yang sempat bikin acara farewell party di taman tersebut.

Mau piknik di bawah pohon Jacaranda? Mampir ke Frys Reserve, Kogarah


Bunga ungu ini sudah mulai tampak menghiasi kota sekitar bulan September, tapi jika kamu ingin lebih mudah lagi bertemu bunga cantik ini, saya sarankan untuk berkunjung di sekitar awal bulan November. 

Selain 2 taman yang saya sebutkan di atas, tempat kece lainnya untuk melihat Jacaranda ini diantaranya sepanjang Ashmore street di Erskineville, Great Buckingham Street di Redfern dan di beberapa jalan kecil di sekitar Paddington.



Sydney Town Hall jadi tambah cantik saat Jacaranda berbunga

Saya pernah saya bahas di Sydney Travel Guide part 1 "When is the best time to visit Sydney? dan saya menjawab semua musim merupakan waktu yang tepat untuk berkunjung ke Sydney. Well, sekarang kalian jadi punya alasan berkunjung ke Sydney pada musim semi juga kan?

Postingan kali ini mungkin saya tujukan buat pembaca yang wanita tapi untuk pembaca yang laki-laki juga ga ada salahnya kok untuk terus baca, siapa tau jadi bisa mengingatkan pacar atau istrinya saat lagi packing juga kan yah. 



Sebelumnya saya lebih sering menemukan artikel tentang packing dan barang-barang apa saja yang perlu dibawa atau ga boleh ketinggalan saat pergi jalan-jalan. Saya juga pernah share tips packing menggunakan infografis di artikel terdahulu tapi rasanya masih jarang yang share tips barang-barang khusus wanita. Apa aja sih barang-barang "wanita" yang sebaiknya selalu kita siapkan untuk bekal perjalanan?

Saya sebagai female traveler *tsaah* pastinya punya beberapa daftar barang khusus ini yang saya bawa ketika bepergian. Jangan sampai karena hal-hal kecil malah menganggu perjalanan seru kita, jadi lebih baik dipersiapkan sebelumnya. Berikut ini 5 barang-barang kewanitaan yang ga boleh ketinggalan saat packing versi geretkoper. 

1. Pembalut 
Saya kurang tau sih kebiasaan teman-teman pejalan perempuan yang lainnya namun saya biasanya sudah tau kapan kira-kira tanggal saya akan datang bulan dan ketika jangka waktu mulai datang bulan dirasa hampir bersamaan dengan jadwal perjalanan, saya selalu menyiapkan sedikitnya 4 pembalut di koper untuk jaga-jaga di hari-hari awal. Untuk kebutuhan kedepannya sih better beli di tempat tujuan supaya tidak terlalu menghabiskan space di koper. Selain pembalut mungkin ada juga beberapa yang lebih nyaman menggunakan tampon atau menstrual cup ya? boleh share juga dong pendapatnya untuk penggunakan dua benda tadi.

2. Obat-obatan 
sumber: pexels.com

Selain obat-obatan untuk beberapa sakit ringan seperti pilek, sakit kepala, pegal-pegal. Beberapa teman yang selalu merasakan "sakit" saat haid juga biasanya punya obat-obatan khusus seperti penghilang rasa sakit dan lebih baik obat ini juga selalu masuk check list saat sedang packing. Selain obat-obat berupa kapsul atau tablet, ada yang harus minum jamu juga ga sih? untuk ke beberapa negara lebih baik bawa yang kemasannya jelas dan tertera isi kandungan obatnya yah. Sebagai informasi, ada beberapa kasus turis yang ditanya-tanya petugas saat pemeriksaan barang bawaan setelah cap imigrasi di Sydney karena ditemukan beberapa obat-obatan yang tidak jelas kandungannya, jadi repot juga kan tuh kalo kita tidak bisa menjelaskan dengan baik.

3. Alat cukur
gambar: goodhousekeeping.com

Ada beberapa pejalan wanita yang mungkin menggunakan alat cukur untuk tindakan hair removal nya dan saya sarankan mungkin lebih baik dibawa dari kota asal ketimbang mencari di tempat tujuan. Saya sendiri sih membawa alat ini apabila akan melakukan perjalanan cukup lama biasanya lebih dari satu minggu. Selain alat cukur yang berupa memiliki pisau cukur atau silet ada juga yang berupa krim dan mungkin lebih praktis untuk dibawa. Perlu diingat apabila yang dibawa berupa pisau cukur khusus wanita, pastikan dimasukkan ke bagasi yah karena barang tersebut tidak bisa masuk ke kabin pesawat. 

4. Celana dalam ekstra
Maybe it sounds silly tapi saya selalu membiasakan diri untuk menyisipkan satu celana dalam ekstra di ransel atau tas yang digunakan saat day trip. Kadang ada saja keadaan "genting" yang terjadi di perjalanan, misalnya di berada tempat wisata dan tidak mungkin atau tidak ada waktu untuk balik ke penginapan untuk mengganti celana yang baru (misalnya: tembus saat haid). Kebiasaan ini sudah saya lakukan dari SMA loh, untuk tindakan preventif aja sih, tapi tidak jarang emang sangat berguna.

5. Sabun pembersih kewanitaan

Nah yang ini lebih penting lagi karena daerah miss V itu memang ga bisa asal-asalan. Dari cerita beberapa teman, ternyata ada beberapa yang menggunakan tissue basah. Aduh padahal penggunaan tissue basah untuk membersihkan area V harus dihindari loh, apalagi pH area kewanitaan itu berbeda dan tissue basah biasa malah bisa menyebabkan iritasi. Saat ini sih, sabun pembersih yang saya pakai Lactacyd dan pas banget beberapa saat yang lalu baru launching varian baru yaitu Lactacyd Herbal dengan ekstrak daun sirih, susu dan bunga mawar. Praktisnya lagi, Lactacyd herbal ada kemasan 60 ml yang pas banget buat dibawa bepergian.




Lactacyd herbal ini sudah teruji secara klinis dan dermatologi dapat digunakan 2 hari sekali dan setiap hari. Yang saya rasakan setelah menggunakan produk ini sih area V terasa kesat, lembut dan terawat. Kandungan ekstrak daun sirih, susu dan bunga mawar ternyata punya fungsinya sendiri dan bukan pilihan bahan sembarangan loh. Daun sirih sudah dikenal sejak lama sebagai bahan yang biasa digunakan untuk membersihkan serta melindungi area V dari gatal dan bau tidak sedap, sedangkan ekstrak susunya berperan untuk melembutkan kulit sekitar area V dan terakhir ekstrak bunga mawar dipilih untuk memberikan keharuman tahan lama dan merawat area V. Beruntung banget ada ini jadinya ga perlu khawatir sama kebersihan area V selama travelling, Female traveller? siapa takut :) #JadiYangKuMau #HaloLactacydHerbal.

Punya barang-barang kewanitaan lain yang seharusnya masuk ke list juga? share tips kamu juga dong.

Sebagai anak yang lahir dan besar di kota Jakarta bisa dibilang saya termasuk jarang bertemu dengan hewan-hewan liar yang ga umum. Paling sering juga ketemu hewan-hewan domestik seperti kucing, anjing, ayam, bebek, entok (duh kalian pasti penasaran kan di Jakarta bagian mana bisa ketemu bebek sama entok?). Untuk unggas yang bisa terbang paling sering paling hanya sebatas merpati burung gereja, burung kakak tua peliharaan yang lepas atau mungkin burung dara. Ternyata hal sesimpel 'jarang lihat macam-macam hewan liar' ini bisa menjadi kegembiraan besar loh ketika tahun lalu saya menginjakan kaki di Sydney.

Setelah sebelumnya mobil yang saya tumpangi sempat hampir menabrak wallaby yang menyebrang jalan saat akan ke Jenolan caves ,saya belum pernah lagi bertemu hewan 'liar' lain berkeliaran selain burung camar, belibis dan kakak tua. Kemudian saya sempat ingat ada seorang teman pernah menyebutkan bahwa ada beberapa tempat di Central Coast yang memungkinkan kita untuk bertemu beberapa hewan liar dan bermain dengan mereka dari jarak dekat, seperti Morriset yang terkenal dengan Kangguru liarnya.


Suasana di bus menuju The Entrance

Ternyata selain taman di Morriset, ada satu tempat lagi bernama The Entrance atau secara harfiahnya dalam bahasa Indonesia berarti "Pintu Gerbang Masuk". Ada apa sih di The Entrance? di sini  pengunjung bisa bertemu sekelompok Pelikan liar dan setiap harinya sekitar pukul 4 sore akan ada "feeding time session" yang diselenggarakan pemerintah setempat. Kegiatan ini bisa disaksikan oleh siapapun secara gratis. 

Beberapa bulan yang lalu, saat saya iseng mencoba naik kereta paling pagi ke arah Newcastle saya memutuskan untuk turun di Wyong dan melanjutkan perjalanan dengan Bis ke The Entrance. Hasilnya? saya kepagian ke tempat ini hahahah. Well gimana engga kepagian, saya sampai di The Entrance jam 7 pagi sedangkan kegiatan memberi makan Pelikannya baru mulai jam 4 sorenya.

Pertama kali ke The Entrance datangnya kepagian, Pelikannya masih di tengah-tengah

Untungnya ada satu Pelikan mau main ke pinggir

Kota ini tidak terlalu besar namun memiliki beberapa fasilitas menarik untuk pengunjung. Mulai dari taman bermain air gratis di waterfrontnya, taman yang penuhi rumput hijau di dekat tempat memberi makan Pelican hingga fasilitas sepeda berbayar yang bisa dipinjam pengunjung untuk berwisata di daerah sekitar (bahkan di Sydney ga ada nih kayak ginian).

Di pagi hari, para Pelikan itu berkumpul di tengah-tengah Danau Tuggerah yang ternyata saat sore harinya baru kelihatan bahwa di tengah-tengah itu ada "pulau" kecil. Perairan di danau ini terbilang tenang dan di sore hari airnya tampak sedikit surut sehingga ada beberapa orang yang nekat nyebrang ke pulau yang ada di tengah tadi demi selfie bareng para Pelikan. Saya? saya sih sibuk foto dan video-in Pelikan saat mereka ke pinggir aja. Main air pas lagi musim dingin bukan hal yang menarik kan yah? hihihihihi.

Saat jam memberi makan tiba dengan sendirinya pasukan Pelican ini mampir ke waterfront untuk berkumpul ke arah "pawang" yang sudah siap dengan beberapa ember besar berisi makanan lezat untuk mereka. Lucunya, si Pawang ini seperti memanggil nama mereka satu persatu, well saya sih agak sedikit sangsi "Ibu ini beneran namain Pelikan satu-satu atau hanya buat menarik pengunjung aja yaa?". Beberapa Pelikan tampak seperti berbaris sambil menunggu dikasih makan.


Pelikan aja mau berbaris rapih sambil nunggu dikasih makan

 Masih nyoba bersabar ngantri dikasih makan

 Ujung-ujungnya berebutan juga sih

Selama kurang lebih 45 menit, para Pelikan ini 'adu cantik' dan berebutan makanan di pinggir danau sambil sibuk meladeni selfie bareng pengunjung seperti saya ini. Jangan ditanya gimana perasaan saya saat itu, selain karena pas banget cuaca cerah sehingga foto-foto yang diambil jadi kece, saya senang luar biasa karena akhirnya bisa main bareng puluhan Pelikan ini di luar kebun binatang. Kapan lagi bisa main sedekat ini dengan Pelikan? yee kan?

Psst: Selfie bareng Pelikan ga mudah, saya sibuk ngejar-ngejar mereka dan tetap tidak berhasil 😅