Untuk di negara-negara yang memiliki empat musim, musim semi alias spring ini biasanya ditandai dengan mekarnya bunga-bunga dan mulai menghijaunya taman-taman di sekitar kota. Jika Jepang terkenal dengan suasana pink dari cherry blossom atau sakuranya dan Belanda tampak cantik dengan warna-warni tulipnya sebagai tanda musim semi datang, di Sydney dan beberapa kota besar di Australia juga memiliki bunga cantik sebagai penanda berakhirnya musim dingin. 


  Jacaranda di First Fleet Park, Circular Quay

Awal musim semi di beberapa tempat di penjuru Sydney akan mulai dipercantik oleh tanaman yang memiliki bunga berwarna ungu ini, yang bernama Jacaranda. Sama seperti bunga sakura, Jacaranda juga hanya berbunga setahun sekali. Tahun 2016 lalu, saya dan beberapa teman sempat menjadi Jacaranda hunter. Kami sempat berburu beberapa kota kecil untuk mencari jalanan yang sepanjang jalannya dipenuhi dengan bunga ungu ini.

Di tengah kota Sydney, pohon Jacaranda ini juga selalu mempercantik town hall dan Circular quay. Daerah-daerah lain yang juga tidak kalah cantik dengan adanya jejeran pohon ungu ini diantaranya, Paddington, Enmore, Kogarah, Erskineville, Redfern dan masih banyak lagi.

Cuma jalan beberapa meter dari Erskineville Train station bisa ketemu ini

Duh, bunga yang rontoknya udah banyak, ati-ati ya kalo keinjek, licin soalnya

Lagi-lagi sama seperti musim bunga sakura di Jepang, di Sydney juga sering saya jumpai orang-orang yang piknik di bawah rindang dan cantiknya pohon Jacaranda. Salah satu yang mungkin bisa kalian temukan di Frys reserve, Kogarah dan First fleet park, Circular quay. Salah satu teman saya juga ada yang sempat bikin acara farewell party di taman tersebut.

Mau piknik di bawah pohon Jacaranda? Mampir ke Frys Reserve, Kogarah


Bunga ungu ini sudah mulai tampak menghiasi kota sekitar bulan September, tapi jika kamu ingin lebih mudah lagi bertemu bunga cantik ini, saya sarankan untuk berkunjung di sekitar awal bulan November. 

Selain 2 taman yang saya sebutkan di atas, tempat kece lainnya untuk melihat Jacaranda ini diantaranya sepanjang Ashmore street di Erskineville, Great Buckingham Street di Redfern dan di beberapa jalan kecil di sekitar Paddington.



Sydney Town Hall jadi tambah cantik saat Jacaranda berbunga

Saya pernah saya bahas di Sydney Travel Guide part 1 "When is the best time to visit Sydney? dan saya menjawab semua musim merupakan waktu yang tepat untuk berkunjung ke Sydney. Well, sekarang kalian jadi punya alasan berkunjung ke Sydney pada musim semi juga kan?

Postingan kali ini mungkin saya tujukan buat pembaca yang wanita tapi untuk pembaca yang laki-laki juga ga ada salahnya kok untuk terus baca, siapa tau jadi bisa mengingatkan pacar atau istrinya saat lagi packing juga kan yah. 



Sebelumnya saya lebih sering menemukan artikel tentang packing dan barang-barang apa saja yang perlu dibawa atau ga boleh ketinggalan saat pergi jalan-jalan. Saya juga pernah share tips packing menggunakan infografis di artikel terdahulu tapi rasanya masih jarang yang share tips barang-barang khusus wanita. Apa aja sih barang-barang "wanita" yang sebaiknya selalu kita siapkan untuk bekal perjalanan?

Saya sebagai female traveler *tsaah* pastinya punya beberapa daftar barang khusus ini yang saya bawa ketika bepergian. Jangan sampai karena hal-hal kecil malah menganggu perjalanan seru kita, jadi lebih baik dipersiapkan sebelumnya. Berikut ini 5 barang-barang kewanitaan yang ga boleh ketinggalan saat packing versi geretkoper. 

1. Pembalut 
Saya kurang tau sih kebiasaan teman-teman pejalan perempuan yang lainnya namun saya biasanya sudah tau kapan kira-kira tanggal saya akan datang bulan dan ketika jangka waktu mulai datang bulan dirasa hampir bersamaan dengan jadwal perjalanan, saya selalu menyiapkan sedikitnya 4 pembalut di koper untuk jaga-jaga di hari-hari awal. Untuk kebutuhan kedepannya sih better beli di tempat tujuan supaya tidak terlalu menghabiskan space di koper. Selain pembalut mungkin ada juga beberapa yang lebih nyaman menggunakan tampon atau menstrual cup ya? boleh share juga dong pendapatnya untuk penggunakan dua benda tadi.

2. Obat-obatan 
sumber: pexels.com

Selain obat-obatan untuk beberapa sakit ringan seperti pilek, sakit kepala, pegal-pegal. Beberapa teman yang selalu merasakan "sakit" saat haid juga biasanya punya obat-obatan khusus seperti penghilang rasa sakit dan lebih baik obat ini juga selalu masuk check list saat sedang packing. Selain obat-obat berupa kapsul atau tablet, ada yang harus minum jamu juga ga sih? untuk ke beberapa negara lebih baik bawa yang kemasannya jelas dan tertera isi kandungan obatnya yah. Sebagai informasi, ada beberapa kasus turis yang ditanya-tanya petugas saat pemeriksaan barang bawaan setelah cap imigrasi di Sydney karena ditemukan beberapa obat-obatan yang tidak jelas kandungannya, jadi repot juga kan tuh kalo kita tidak bisa menjelaskan dengan baik.

3. Alat cukur
gambar: goodhousekeeping.com

Ada beberapa pejalan wanita yang mungkin menggunakan alat cukur untuk tindakan hair removal nya dan saya sarankan mungkin lebih baik dibawa dari kota asal ketimbang mencari di tempat tujuan. Saya sendiri sih membawa alat ini apabila akan melakukan perjalanan cukup lama biasanya lebih dari satu minggu. Selain alat cukur yang berupa memiliki pisau cukur atau silet ada juga yang berupa krim dan mungkin lebih praktis untuk dibawa. Perlu diingat apabila yang dibawa berupa pisau cukur khusus wanita, pastikan dimasukkan ke bagasi yah karena barang tersebut tidak bisa masuk ke kabin pesawat. 

4. Celana dalam ekstra
Maybe it sounds silly tapi saya selalu membiasakan diri untuk menyisipkan satu celana dalam ekstra di ransel atau tas yang digunakan saat day trip. Kadang ada saja keadaan "genting" yang terjadi di perjalanan, misalnya di berada tempat wisata dan tidak mungkin atau tidak ada waktu untuk balik ke penginapan untuk mengganti celana yang baru (misalnya: tembus saat haid). Kebiasaan ini sudah saya lakukan dari SMA loh, untuk tindakan preventif aja sih, tapi tidak jarang emang sangat berguna.

5. Sabun pembersih kewanitaan

Nah yang ini lebih penting lagi karena daerah miss V itu memang ga bisa asal-asalan. Dari cerita beberapa teman, ternyata ada beberapa yang menggunakan tissue basah. Aduh padahal penggunaan tissue basah untuk membersihkan area V harus dihindari loh, apalagi pH area kewanitaan itu berbeda dan tissue basah biasa malah bisa menyebabkan iritasi. Saat ini sih, sabun pembersih yang saya pakai Lactacyd dan pas banget beberapa saat yang lalu baru launching varian baru yaitu Lactacyd Herbal dengan ekstrak daun sirih, susu dan bunga mawar. Praktisnya lagi, Lactacyd herbal ada kemasan 60 ml yang pas banget buat dibawa bepergian.




Lactacyd herbal ini sudah teruji secara klinis dan dermatologi dapat digunakan 2 hari sekali dan setiap hari. Yang saya rasakan setelah menggunakan produk ini sih area V terasa kesat, lembut dan terawat. Kandungan ekstrak daun sirih, susu dan bunga mawar ternyata punya fungsinya sendiri dan bukan pilihan bahan sembarangan loh. Daun sirih sudah dikenal sejak lama sebagai bahan yang biasa digunakan untuk membersihkan serta melindungi area V dari gatal dan bau tidak sedap, sedangkan ekstrak susunya berperan untuk melembutkan kulit sekitar area V dan terakhir ekstrak bunga mawar dipilih untuk memberikan keharuman tahan lama dan merawat area V. Beruntung banget ada ini jadinya ga perlu khawatir sama kebersihan area V selama travelling, Female traveller? siapa takut :) #JadiYangKuMau #HaloLactacydHerbal.

Punya barang-barang kewanitaan lain yang seharusnya masuk ke list juga? share tips kamu juga dong.

Sebagai anak yang lahir dan besar di kota Jakarta bisa dibilang saya termasuk jarang bertemu dengan hewan-hewan liar yang ga umum. Paling sering juga ketemu hewan-hewan domestik seperti kucing, anjing, ayam, bebek, entok (duh kalian pasti penasaran kan di Jakarta bagian mana bisa ketemu bebek sama entok?). Untuk unggas yang bisa terbang paling sering paling hanya sebatas merpati burung gereja, burung kakak tua peliharaan yang lepas atau mungkin burung dara. Ternyata hal sesimpel 'jarang lihat macam-macam hewan liar' ini bisa menjadi kegembiraan besar loh ketika tahun lalu saya menginjakan kaki di Sydney.

Setelah sebelumnya mobil yang saya tumpangi sempat hampir menabrak wallaby yang menyebrang jalan saat akan ke Jenolan caves ,saya belum pernah lagi bertemu hewan 'liar' lain berkeliaran selain burung camar, belibis dan kakak tua. Kemudian saya sempat ingat ada seorang teman pernah menyebutkan bahwa ada beberapa tempat di Central Coast yang memungkinkan kita untuk bertemu beberapa hewan liar dan bermain dengan mereka dari jarak dekat, seperti Morriset yang terkenal dengan Kangguru liarnya.


Suasana di bus menuju The Entrance

Ternyata selain taman di Morriset, ada satu tempat lagi bernama The Entrance atau secara harfiahnya dalam bahasa Indonesia berarti "Pintu Gerbang Masuk". Ada apa sih di The Entrance? di sini  pengunjung bisa bertemu sekelompok Pelikan liar dan setiap harinya sekitar pukul 4 sore akan ada "feeding time session" yang diselenggarakan pemerintah setempat. Kegiatan ini bisa disaksikan oleh siapapun secara gratis. 

Beberapa bulan yang lalu, saat saya iseng mencoba naik kereta paling pagi ke arah Newcastle saya memutuskan untuk turun di Wyong dan melanjutkan perjalanan dengan Bis ke The Entrance. Hasilnya? saya kepagian ke tempat ini hahahah. Well gimana engga kepagian, saya sampai di The Entrance jam 7 pagi sedangkan kegiatan memberi makan Pelikannya baru mulai jam 4 sorenya.

Pertama kali ke The Entrance datangnya kepagian, Pelikannya masih di tengah-tengah

Untungnya ada satu Pelikan mau main ke pinggir

Kota ini tidak terlalu besar namun memiliki beberapa fasilitas menarik untuk pengunjung. Mulai dari taman bermain air gratis di waterfrontnya, taman yang penuhi rumput hijau di dekat tempat memberi makan Pelican hingga fasilitas sepeda berbayar yang bisa dipinjam pengunjung untuk berwisata di daerah sekitar (bahkan di Sydney ga ada nih kayak ginian).

Di pagi hari, para Pelikan itu berkumpul di tengah-tengah Danau Tuggerah yang ternyata saat sore harinya baru kelihatan bahwa di tengah-tengah itu ada "pulau" kecil. Perairan di danau ini terbilang tenang dan di sore hari airnya tampak sedikit surut sehingga ada beberapa orang yang nekat nyebrang ke pulau yang ada di tengah tadi demi selfie bareng para Pelikan. Saya? saya sih sibuk foto dan video-in Pelikan saat mereka ke pinggir aja. Main air pas lagi musim dingin bukan hal yang menarik kan yah? hihihihihi.

Saat jam memberi makan tiba dengan sendirinya pasukan Pelican ini mampir ke waterfront untuk berkumpul ke arah "pawang" yang sudah siap dengan beberapa ember besar berisi makanan lezat untuk mereka. Lucunya, si Pawang ini seperti memanggil nama mereka satu persatu, well saya sih agak sedikit sangsi "Ibu ini beneran namain Pelikan satu-satu atau hanya buat menarik pengunjung aja yaa?". Beberapa Pelikan tampak seperti berbaris sambil menunggu dikasih makan.


Pelikan aja mau berbaris rapih sambil nunggu dikasih makan

 Masih nyoba bersabar ngantri dikasih makan

 Ujung-ujungnya berebutan juga sih

Selama kurang lebih 45 menit, para Pelikan ini 'adu cantik' dan berebutan makanan di pinggir danau sambil sibuk meladeni selfie bareng pengunjung seperti saya ini. Jangan ditanya gimana perasaan saya saat itu, selain karena pas banget cuaca cerah sehingga foto-foto yang diambil jadi kece, saya senang luar biasa karena akhirnya bisa main bareng puluhan Pelikan ini di luar kebun binatang. Kapan lagi bisa main sedekat ini dengan Pelikan? yee kan?

Psst: Selfie bareng Pelikan ga mudah, saya sibuk ngejar-ngejar mereka dan tetap tidak berhasil 😅


Di negara-negara maju, subway atau kereta bawah adalah salah satu moda transportasi yang umumnya tersedia dan digunakan jutaan orang tiap harinya. Tidak hanya warga lokal, subway juga menjadi transportasi favorit turis karena cepat, murah, dan menjangkau hingga sudut kota. Akan tetapi, ada beberapa rute subway yang cukup rumit yang bisa membuat pusing para turis, salah satunya seperti yang ada di kota Tokyo. Citylab.com bahkan mengatakan bahwa sistem subway Tokyo merupakan rute paling rumit ketiga di dunia, di bawah New York dan Paris.

Tokyo Sky Tree - stasiun terdekat Oshiage (Tokyo Metro Hanzomon line & Toei Asakusa line)

Nah, sebelum pergi ke kota yang memiliki landmark Tokyo Tower dan Tokyo Sky Tree ini, ada beberapa informasi mengenai Tokyo Subway yang perlu kalian ketahui dan juga tips untuk memudahkan perjalanan kalian selama menggunakan subway.

1. Kenali berbagai jalur kereta dan perusahaan yang mengoperasikannya

Tokyo Subway diperasikan oleh dua operator berbeda, yaitu Tokyo Metro dan Toei Subway. Masing-masing operator tersebut memilik jalurnya sendiri. Tokyo Metro terdiri dari sembilan jalur, yaitu Ginza, Marunouchi, Hibiya, Tozai, Chiyoda, Yurakucho, Hanzomon, Namboku, dan Fukutoshin line sedangkan Toei Subway terdiri dari empat jalur, yaitu Asakusa, Mita, Shinjuku, dan Oedo line.

Kalau kalian ingin menggunakan tiket terusan harian (1-Day Open ticket), kalian dapat terlebih dahulu merencanakan jalur yang akan digunakan dalam satu hari tersebut. Tiket terusan untuk jalur-jalur Tokyo Metro saja dapat dibeli seharga 600 yen sedangkan untuk gabungan Tokyo Metro dan Toei Subway harganya 1000 yen. Tiket ini dapat diperoleh di vending machine di stasiun mana saja. Kalau pandai menggunakannya, kalian bisa menghemat beberapa ratus yen dibanding menggunakan e-money seperti Pasmo atau Suica. 

2. Rencanakan perjalanan dengan bantuan Smartphone

Unduh aplikasi route planner supaya tidak perlu pusing lagi mencari tahu cara pergi dari titik A ke B di peta yang rumit. Aplikasi Tokyo Metro Subway Map & Route contohnya, dapat menampilkan rute tercepat atau rute dengan paling sedikit transit yang dapat kalian ambil. Selain itu, ada juga Tokyo Subway Navigation for Tourists yang memiliki tampilan sederhana tapi memiliki informasi yang sangat lengkap, seperti rute, waktu tempuh, dan tarif perjalanan. Berita baiknya, aplikasi ini dapat juga digunakan secara offline dan menjadi poin plus bagi travelers yang tidak memiliki paket data atau tidak menyewa pocket wifi, karena tidak banyak tempat di Tokyo yang menawarkan koneksi wifi gratis.

Edo Tokyo Museum - stasiun terdekat Ryogoku (Toei Oedo line, exitA4)

3. Catat pintu Exit-mu

Saat menggunakan subway untuk mengunjungi lokasi wisata tertentu, sebelumnya jangan lupa untuk mencatat pintu keluar terdekat dari tempat yang dituju. Hal ini dikarenakan rata-rata tiap stasiun memiliki lebih dari satu pintu keluar dan jika salah memilih exit bisa-bisa kita tersasar sangat jauh dari tempat yang sebenarnya kita tuju. Biasanya stasiun-stasiun besar seperti Shibuya memiliki papan informasi dan panduan arah dalam bahasa inggris yang cukup jelas mengenai pintu keluar mana yang harus dipilih untuk menuju lokasi tertentu. Namun jika kalian ingin mendatangi tempat-tempat yang tidak terlalu touristy, ada baiknya mencari tahu terlebih dahulu pintu keluar mana yang paling dekat ke lokasi tersebut. 

4. When in Rome, do as the Romans do

Bagi travelers yang juga pengguna commuter line jakarta (kereta jakarta), mungkin sudah terbiasa dengan pemandangan orang-orang yang mengobrol atau menelepon di dalam kereta. Nah, dua kebiasaan ini sebaiknya dihindari saat menggunakan subway di Jepang. Mengobrol dengan teman tidak dilarang tapi usahakan untuk tidak terlalu berisik dan menggangu penumpang lain. Selain itu, di dalam kereta penumpang diharapkan untuk mengatur ponsel mereka ke dalam mode senyap (silent) atau manner mode. Berbicara di telepon merupakan hal yang dianggap tidak sopan dilakukan di transportasi umum tapi tenang saja, kegiatan-kegiatan lain seperti chatting atau main game boleh kok dilakukan. Oh ya, saat menggunakan eskalator di stasiun di Tokyo, berdirilah di sisi kiri eskalator jika hanya akan berdiri selama menggunakan eskalator karena sisi sebelah kanan diperuntukkan bagi orang yang berjalan. Kalau kalian berdiri di sisi kanan namun berdiri diam, kalian bisa menghalangi orang yang sedang terburu-buru mengejar kereta.

 Kaminarimon Sensoji Temple - stasiun terdekat Asakusa (Tokyo Metro Ginza line exit 1)

Tulisan ini merupakan guest post dari Halida Aisyah, thank you udah meramaikan geretkoper :3



Halida A.
Sangat suka berburu makanan manis, buku, dan festival. Senang bersepeda di mana saja. Baru pernah tinggal di Indonesia dan Jepang, tapi menganggap seluruh dunia adalah rumahnya.
Twitter: @___rubyslippers
Instagram: @___rubyslippers

Berawal dari postingan Kania di blognya tentang Hotel lucu di Bandung, saya menemukan sebuah konsep kamar yang unik dimana kamar tersebut bertipe "rooftop" yang salah satu dindingnya merupakan jendela kaca dengan sudut yang miring. Tangan ini langsung gatel cari-cari informasi tentang Beehive Boutique Hotel ini ke beberapa website pemesanan hotel. Awalnya saya kecewa karena tidak menemukan tipe kamar yang Kania sebutkan di postingannya. Karena keinginan main ke kamar "rooftop" ini tidak terbendung, saya akhirnya coba telepon ke hotelnya langsung untuk memesan kamar rooftop ini. (seumur-umur saya belum pernah booking hotel via telepon dan langsung ke hotelnya loh *sumpah*, maap norak).


Long story short, saya akhirnya berhasil memesan kamar rooftop ini plus langsung memastikan kamar yang saya inginkan yang mana. Hotel ini hampir serupa dengan Oliver's Hostelry, hotel yang pernah saya inapi sebelumnya di mana setiap kamar desainnya berbeda-beda. Oh iya for your info di hotel ini cuma ada 3 kamar dengan tipe rooftop.

Common Area

I would say this hotel is super INSTAGRAMABLE. Sedari awal masuk ke lobby aja, saya udah sibuk celingukan sana sini sambil senyum-senyum sendiri melihat lobbynya yang cantik. Lobbynya dikelilingi jendela kaca sehingga di siang hari pencahayaannya sangat terang, pemilihan furnitur dan barang-barang di lobby sudah seperti showcase Majalah Martha Stewart Living deh rasanya. I know I would love to spend some time in this area. Gak sampai di situ aja, ternyata hotel 5 lantai ini memiliki sudut cantik di tiap-tiap lantainya. Karena kamar saya kebetulan ada di lantai 4, saya melewati semua showcase ini dan pastinya selalu berhenti untuk foto-foto dulu.



Dreams don't work unless you do

Rooms

Secara keseluruhan tiap-tiap kamar di hotel ini mengusung tema Scandinavian dan dibagi lagi ke dalam 5 tema pilihan, Dusty Miller, Olive Green, Maiden Fern, Lily of The Valley dan Lily of The Nile. Untuk kamar rooftop hanya ada di tipe Lily of the Valley dan Lily of The Nile. Untuk tempat tidur juga ada pilihan twin bed dan double bed, buat yang suka bingung sama tipe kasurnya ini mending yang diinget salah satu aja, misalnya twin bed itu berarti terdiri dari 2 tempat tidur single.   



Kamar yang saya inapi bertema Lily of The Valley, ukuran kamarnya cukup luas dan ada akses ke balkon juga. Tiap-tiap kamar sudah dilengkapi dengan LCD TV kabel, tea & coffee corner, toiletries, hot & cold shower dan free WiFi. 

Saya sempat celingukan di kamar untuk mencari arah kiblat tapi ga ketemu juga. Sebenarnya bisa saja sih telepon ke front office untuk bertanya arah kiblat tapi kemarin akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan mobile apps compass.


Kamar-kamar cantik di hotel ini cocok banget untuk diinapi bersama teman atau keluarga, namun rasanya kurang cocok apabila kita membawa keluarga yang sudah berumur karena untuk akses ke kamar hanya menggunakan tangga, well kebayangkan kalo tiba-tiba dapat kamar seperti punya saya di lantai 4.



Di malam saya menginap di Beehive, hujan turun cukup lebat. Biasanya saya akan sedikit kesal jika saat liburan ternyata turun hujan, tapi kali in cukup berbeda dan meskipun hujan turun ternyata masih tetap menyenangkan. Kok bisa? Hotel ini satu area dengan dua restoran yang masih dalam manajemen yang sama yaitu Beehive cafe dan Kapulaga resto, jadi saat hujan turun sata tidak perlu khawatir kesulitan mencari makan malam. Selain itu, ternyata air hujan yang jatuuh dan mengalir di jendela kamar menjadi pemandangan unik tersendiri yang malam bikin betah lama-lama di kamar. The perks of having rooftop room theme *love love love*. Andai aja pemandangannya langsung hutan pinus atau lembah hijau yah.

Breakfast

Setelah check in, saya disodori selembar kertas berisi daftar menu sarapan yang bisa kami pilih untuk besok paginya. Awalnya saya pikir konsepnya akan sama seperti Oliver's yang diantar ke masing-masing kamar. Ternyata sarapan bisa dipilih untuk disantap di Beehive cafe atau di Kapulaga dan tentunya dengan memilih menunya terlebih dahulu. Ada 5 jenis menu diantaranya, Nasi uduk, Nasi goreng, Full beehive breakfast, egg & toast dan cereal. Tiap-tiap menu sudah termasuk minum, bisa dipilih antara kopi atau teh.

Saya memesan nasi goreng dan teman saya memesan full beehive breakfast yang ternyata disajikan lengkap dengan potongan buah juga. Menu nasi gorengnya sih standard lengkap dengan kerupuk, telor mata sapi, sosi sapi dan acar sedangkan full beehive breakfast sepertinya jadi menu yang paling banyak elemennya, mulai dari roti bakar, hash brown, telor mata sapi, beef bacon, sosis sapi, salad dan tumis jamur. 





  
Overall, saya suka pake banget menginap di hotel ini. Selain kamarnya yang cantik dan nyaman, lokasinya juga strategis dan hanya sejengkal dari jalan raya Dago (Jl. Ir. H Juanda). Mungkin untuk kerapihan kamar mandinya bisa ditingkatkan sedikit and it would be perfect :), kemarin saya rasanya agak kurang rapi tapi semoga cuma kamar saya aja sih. 


Jadi gimana? Kalian udah kepengen langsung pesan kamar di hotel ini untuk liburan selanjutnya di Bandung kan?





Beehive Boutique Hotel
Jl. Dayang Sumbi No 1 - 3, Bandung
(022) 2505801

Lokasinya tak jauh dari sudut Lebuh Chulia yang bersimpangan dengan Jalan Masjid Kapitan Keling, yang artinya penginapan ini berada di jantung UNESCO World Heritage Site Georgetown. Artinya juga, lokasi jadi nilai jual utama penginapan dan jadi alasan penting bagi saya dalam memilihnya. Beberapa tempat ibadah ikonik berada dalam jangkauan berjalan kaki. Masjid Kapitan Keling tepat berada di seberang bangunan. Kuil Kwan Im, Shri Mahariamman Temple, dan Gereja Anglikan St George pun bisa didatangi kurang dari 10 menit berjalan. Selain tempat ibadah, beberapa landmark Penang pun berada tak jauh dari penginapan. Penang Peranakan Mansion, Penang Art & Gallery Museum, Little India, dan Lebuh Armenian yang hip dengan aneka mural pun ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Lokasinya yang tak jauh dari Jalan Masjid Kapitan Keling pun memiliki 1 keunggulan lain yakni tak jauh dari halte bus CAT yang membawa kita berkeliling inti kota Georgetown tanpa biaya sepeserpun.


 

Alasan lain yang membuat saya memilih The Frame Guesthouse adalah bentuk bangunannya. Shophouse tua yang telah direnovasi menjadi lebih minimalis, raw, dan chic. Front office yang memanjang hanya diisi 1 meja, 2 kursi, dan 1 karpet kecil namun tidak mengurangi nilai estetiknya. Beralih ke area pantry, nuansa kayu menambah keindahan ruangan yang tampak ‘tua’. Toilet & shower area pun dipoles dengan gaya layaknya tidak dipoles. Susunan bata diekspose telanjang tanpa diplester dan dicat menambah kesan ‘savage’.




Tak banyak fasilitas yang disediakan The Frame Guesthouse. Namun kebutuhan dasar akan sebuah penginapan seperti kamar tidur, pantry, shower, & toilet area dibangun dengan apik. Pemilihan furnitur dan penyusunannya menambah nilai kenyamanan karena tidak membuat sumpek bangunan tua yang hanya terdiri dari 3 lantai ini.



Jika telah selesai mengagumi dan menikmati hostel yang chic ini, monggo loh berjalan sedikit menyeberangi Lebuh Chulia untuk menikmati Nasi Kandar Beratur yang letaknya hanya beberapa langkah dari The Frame Guesthouse. Atau, ingin bercengkrama bersama teman sambil menyeruput secangkir kopi? Beberapa coffeeshop ternama tak jauh untuk dijelajahi. Tak butuh berkendara untuk mendatangi The Alley, Selfie Coffee, Mugshot Coffee, atau Moustache Houze.



The Frame Guesthouse

168 Lebuh Chulia, Georgetown, Penang

Tulisan ini merupakan guest post yang dibuat kak Ari - Eat|Play|Repeat
Yeaayyy penginapan favorit teman pejalan series balik lagi. Kalo sebelumnya yang dibahas adalah penginapan di Bandung dan Singapura, kali ini beberapa teman pejalan dan saya akan berbagi informasi tentang penginapan di Penang. 

Pulau Pinang atau yang lebih akrab disebut Penang ini, merupakan Negara bagian Malaysia yang bisa ditempuh dengan kereta selama kurang lebih 8 jam dari Kuala Lumpur. Naik keretanya cuma sampai Butterworth dilanjutkan naik feri ke Georgetown. Kultur yang ada di Penang juga sama beragamnya seperti di Kuala lumpur, bangunan-bangunan ruko atau yang biasa disebut shophouse juga banyak yang masih kental dengan asitektur cina peranakan.

Daerah penginapan yang paling favorit biasanya berada di Georgetown, di area ini banyak terdapat objek wisata dan mural-mural yang biasa jadi incaran para pejalan. Berikut ini ada beberapa teman pejalan akan berbagi informasi tempat menginap di Penang, siapa tahu bisa jadi ide buat kalian yang hendak berkunjung ke Penang.

1. Hotel Penaga - Meidiana Kusuma (ini aku sendiri :P)

 kirinya Jalan Hutton, kanannya Jalan Clarke

Ini penampakan kamar dengan 2 kamar tidurnya, hayoo ngeh ada yang "Indonesia" ga dari kamarnya?

Hotel ini terletak di perempatan Hutton street dan Clarke street. Uniknya hotel ini menjadi hotel heritage pertama yang mendapat predikat green rating loh. Meskipun beberapa bagian hotel tetap dijaga desain eksterior dan interiornya bergaya cina peranakan, namun beberapa bagian telah dimoderinisasi. Kamar di Hotel Penaga yang paling kecil ukurannya sudah luas banget dan ada juga kamar dengan 2 kamar tidur yang cocok untuk kalian yang bepergian dengan keluarga. 

Untuk perihal makanan juga ngga perlu khawatir, karena di dekat hotel banyak banget restaurant dan food court, beberapa malah masih buka sampai tengah malam. Untuk menuju perhentian free bus Penangnya juga hanya tinggal jalan menuju Jalan Penang aja. Recommended banget.

2. Spices Residence - Aggy DEWtraveller





Di daerah Georgetown ada penginapan yang bernama Spices Residence. Tempatnya strategis, cosy dan homy banget. Jumlah kamar yang ada di Spices residence tidak terlalu banyak sehingga aku ngerasa lebih nyaman dan tidak terganggu dengan tamu-tamu yang lain. Sejarah di balik bangunan Spices residence ini juga tidak kalah seru, bangunannya sendiri dibangun sekitar tahun 1700an dan awalnya tempat ini peruntukan untuk tempat 'camp' sementara para calon jemaah haji sebelum keberangkatan ke Mekkah. 

Tamu yang menginap di Spices Residence juga mendapatkan sarapan dengan menu khas lokal seperti nasi lemak yang dibungkus daun pisang serta menu pelengkap seperti samosa dan spring roll. 
Aggy   
Twitter :@dewtraveller
Instagram : @dewtraveller


3. Golden Sands Penang - Tesya


Untuk kalian yang mau berkunjung ke Penang bersama keluarga dan mau mencoba suasana di luar Georgetown, bisa juga menginap di daerah Batu Feringghi. Ada penginapan yang saya rekomendasikan bernama Golden Sands. Beberapa hal menarik dari hotel ini diantaranya, hotel yang langsung tersambung ke pantai, taman yang luas, kolam renang yang besar, ada kolam berenang khusus anak-anak lengkap dengan waterlsidenya, dekat dengan halte bus dan ada free shuttle ke Georgetown. 



Di dekat Golden Sands juga ada beberapa tempat makan sehingga kita ga kesulitan cari makanan seperti KFC (jauh-jauh ke Penang makannya KFC lagi :P) dan ada juga Long Beach hawker center.
Tesya
Blog : Tesyasblog
Twitter : @tesyasblog
Instagram : @tesyasblog

4. G Hotel Kelawai - Jennifer Tham


Salah satu pilihan hotel lain di Penang yang juga masih di dekat pusat kota adalah Hotel G Kelawai. Kamar-kamar di Hotel G ini baru saja di makeover dan beberapa furnitur diganti sehingga tampak lebih stylish. Tiap kamar mandi juga dilengkapi bath tub plus bath salt juga, seru!.

Untuk mendapatkan pemandangan terbaik dari kamar, sebaiknya kali meminta untuk mendapatkan kamar yang menghadap ke Gurney Drive. Soal belanja dan makanan juga tidak perlu khawatir, hotel ini terletak persis di samping Gurney Plaza dan Gurney Paragon sedangkan untuk city tour, di depan Gurney Plaza juga ada halte bus Penang hop-on hop-off.






Jennifer
Instagram : @sillyepiphany


5. The Frame Guesthouse - Ari


Lokasi The Frame Guesthouse terletak di 168 Lebuh Chulia, sebuah lokasi yang bisa dibilang sebagai jantung UNESCO World Heritage site Georgetown. Letaknya sangat strategis, Mesjid Kapiran Keling tepat berada di seberang bangunan sedangkan Kuil Kwan Im, Sri Mahariamman temple dan Gereja Anglican St George pun bisa didatangi kurang dari 10 menit berjalan.

Keunggulan lain dari penginapan ini adalah lokasinya yang tidak jauh dari halte bus CAT, bus lokal yang bisa membawa kita berkeliling Georgetown tanpa biaya sepeserpun. Tak banyak fasilitas yang disediakan The Frame Guesthouse. Namun kebutuhan dasar akan sebuah penginapan seperti kamar tidur, pantry, shower, & toilet area dibangun dengan apik. Pemilihan furnitur dan penyusunannya menambah nilai kenyamanan karena tidak membuat sumpek bangunan tua yang hanya terdiri dari 3 lantai ini. 


Ari
Twitter : @sy_azhari
Instagram :@ariazhari

6. Tune Hotel - Dita


source: tunehotels.com

Sepertinya hampir sebagian besar penginapan yang ada di sekitaran Georgetown adalah bangunan tua, terutama hostelnya. Nah, buat kalian yang agak parnoan dan kurang suka dengan 'bangunan tua' ini, Tune hotel bisa jadi pilihan. Akses ke hotel yang berlokasi di Jalan Burma ini juga terbilang mudah kok, selain lumayan dekat dengan Komtar, di depan Hotel ada bus stop yang dilewati bus no 103 menuju Gurney Drive, pusat kuliner Penang (ada 2 mall besar juga di dekat situ). Di sekitaran hotel juga ada beberapa coffee shop lucu yang bisa dicoba. Sekedar tips, usahakan pesan kamar dari jauh-jauh hari jadi harganya jauh lebih murah.


Dita
Twitter : @malesmandicom
Instagram : @malesmandicom


Listnya bukan cuma ini aja loh, akan terusss bertambah. Kamu punya tempat menginap favorit juga di Penang? ayo dong ikutan share bisa email ke aku atau DM ke akun social media yang lainnya ya.

Baca Juga:
Penginapan Favorit Teman Pejalan di Bandung
Penginapan Favorit Teman Pejalan di Singapura