Thursday, April 11, 2013

Unique Gesture in Vietnam

"Apakah kalian memperhatikan kadang Pak Supir melambaikan tangannya ke Supir di kendaraan diarah berlawanan? Mereka bukan teman, bahkan mereka tidak saling mengenal, mereka hanya memberikan sinyal atau tanda bahwa tidak ada polisi"


Ternyata penjelasan tur guide saya dalam perjalanan menuju sungai mekong ini menjadi kalimat yang melekat diingatan saya. Ditambah lagi, posisi duduk saya persis paling depan disamping Pak Supir. Awalnya saya memilih duduk disitu simpel karena ingin dengan leluasa mengabadikan pemandangan disepanjang jalan.

Buat yang belum tahu tentang lalu lintas di Vietnam, saya berikan penjelasan singkatnya dulu. Populasi kendaraan di Vietnam didominasi dengan motor, bayangkan saja sekitar 70 - 80 % kendaraan yang ada dijalan raya adalah motor. Kenapa ? ternyata hal ini disebabkan oleh pajak kendaraan di Vietnam, pemerintah mengenakan pajak mobil hingga 200% dari harga belinya, sedangkan pajak motor hanya dikenakan sekitar 20-30% dari harga belinya (info tour guide).




Di negara ini, jalur dan kecepatan maksimum kendaran diatur. Jalan-jalan besar di Ho Chi Minh City / jalanan menghubungkan Ho Chi Minh dengan kota lain biasanya terdiri dari 3 jalur atau ada pula yang 5 jalur (3 untuk mobil dan 2 untuk motor) dan biasanya aturan kecepatan maksimal kendaraan terpampang disepanjang jalan raya.


oh iya, info tambahan, mobil  di Vietnam posisi setirnya ada disebelah kiri, oleh karena itu arah kendaraan di jalanannya juga berlawanan arah dari di Indonesia. Kemarin sempat kagok juga, biasanya nyebrang nengok ke kanan dulu baru ke kiri, disini harus dilakukan sebaliknya. Jadi deh kadang-kadang terbalik atau bahkan lupa.

Kembali kepermasalahan lambaian tangan pak supir, Sama halnya dengan Jakarta, di Ho Chi Minh City juga sering terlihat polisi berpatroli dan tidak segan menilang kendaraan yang melaju melebihi kecepatan maksimum yang berlaku. Hal tersebut yang kemudian menjadi awal terjadinya bahasa tubuh antara supir kendaraan. Mereka melambaikan tangan untuk memberi informasi bahwa dijalanan yang mereka lewati tidak ada polisi.

Lalu, bagaimana jika dijalan sebelumnya mereka melihat ada polisi?

Ternyata ada bahasa tubuh lain yang mereka lakukan untuk menyampaikan info tersebut. Si supir hanya tinggal menunjuk ke arah di mana Polisi itu terihat berpatroli dijalan yang sebelumnya mereka lewati. 

Lantas apa gunanya tanda-tanda tersebut ?

Jika para supir mendapatkan info tidak ada polisi dijalanan yang akan dilaluinya, mereka dapat dengan tenang menaikan laju kendaraannya. Melaju dengan 'cepat' disini bukan berarti kebut-kebutan, biasanya hanya 80-100 km/jam saja sudah terbilang cepat. Karena rata-rata batas maksimum kecepatan disini hanya berkisar 40-60 km/jam. Tidak terbayang kan kalo kita harus menempuh jarak 250 km dengan kendaraan yang hanya melaju dengan kecepatan 40 km/jam *pantat panas dan pegel*


4 comments:

  1. mengenai jumlah motor yg buanyakk banget disana, baru tau dari baca2 blog. Pas kmrn ke sana, bener yg dibilang sama mb medi ni, gila2an juga nyetirnya. Geleng2 kepala aja aku bisanya. Nah, yg gesture tubuh aku nggak merhatiin waktu ikut tur di dalam bis, lha wong milih duduknya di tengah hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihihi, iyahh mba tapi yg gestur dadah dadah biasanya ada di bis yang jarak jauh, kalo bis local tur yang ke mekong delta sih juga gitu biasanya, soalnya perjalanannya lumayan kan tuh sampe 2 jam :D

      motornya gile yahhh banyak benerrr, apalagi kalo lagi lampu merah di deket Pham Ngu Lao street hihihihihihi

      Delete
  2. rasio antara jumlah motor dengan mobil sepertinya tinggian di sana ya daripada di Indonesia

    ReplyDelete
  3. oh iya ngomong-ngomong harga mobil disana contohnya mitsubishi mirage kok bisa sampai 400 juta ya??? sedangkan di indonesia yang bekas aja tinggal 110 sampai 120 juta sedangkan harga barunya malah paling murah sekitar 160 juta dan yang paling mahal di indonesia sekitar 190 juta loh.

    ReplyDelete

Thank you for comment :)