Saturday, July 20, 2013

Bika, Kue Kelapa Khas Minang

Penampakan Kue Bika


Berkunjung ke sebuah daerah memang kurang lengkap tanpa mencicipi makanan khas daerah setempat. Nah hal itu juga yang tidak mau saya lewatkan ketika berkunjung ke Bukit Tinggi beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya agak sulit mencari penjual pangan khas Bukit Tinggi yang buka disiang hari, dikarenakan waktu saya berkunjung ke tempat tersebut pada bulan Ramadhan, dimana umat muslim sedang menunaikan Ibadah Puasa. Saya sendiri juga sedang berpuasa saat itu, makanya tempat-tempat yang dituju juga lebih dipilih-pilih.

Hal menyenangkan dari perjalanan saya ke Bukit Tinggi ini adalah saya ditemani guide lokal, yang sebenarnya teman kantor papa dan mama. Om Andi ini putra minang asli dan selama perjalanan selalu menceritakan sejarah, tempat wisata dan hal-hal menarik di Padang dan Bikit Tinggi. Seharian setelah mengunjungi kota Bukit Tinggi, di perjalanan pulang menuju kota Padang beliau menceritakan makanan khas kota Bukit Tinggi yang bernama kue 'Bika'. Mendengar kata tersebut yang terlintas dipikiran saya adalah kue seperti 'Bika Ambon' atau mungkin 'Cara Bikang'. Ternyata ini kue yang berbeda dengan dua kue yang saya pikirkan sebelumnya dan beliau berjanji untuk mengantarkan saya ke tempat pembuatannya.


Di sepanjang jalan dari Bukit Tinggi ke Padang, tepatnya di Koto Baru biasanya banyak toko-toko yang menjual kue tersebut, namun berhubung ini bulan Puasa yang beliau takutkan totko-toko tersebut tutup. Dan benar saja, dua toko pertama yang kami datangi tutup. Untungnya toko berikutnya sudah buka dan baru saja selesai memasak kue 'Bika'. 'yeaaaaaaaayyyy'

akhirnya ada juga toko yang buka

Begitu melihat kue Bika yang sudah matang, saya langsung teringat dengan kue Wingko Babat khas Semarang. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat kue ini antara lain tepung beras, santan, gula dan kelapa parut. Untungnya Uda (dalam bahasa Padang bearti kata sapaan sopan untuk kakak laki-laki atau yang lebih tua) yang sedang mejaga toko, mau membagi cerita tentang proses pembuatan kue tersebut.

Bahan-bahan seperti tepung beras, santan, gula dan kelapa parut diaduk menjadi satu dengan takaran yang sudah ditentukan agar menjadi adonan kue Bika. Mereka memiliki ruang tersebdiri untuk pencampuran bahan hingga menjadi adonan.

Ini ruang pencampuran bahan


Adonan yang siap di bakar, kemudian dibawa tempat pembakaran, namun sebelumnya sudah disiapkan arang yang akan dipakai untuk memasak. Proses pembakaran kue Bika ini yang menurut saya menarik. Mungkin kita pernah liat proses pembuatan surabi bandung, dengan alat cetak dari tanah liat dan arang ditaruh dibawahnya. Nah untuk kue ini, arang tidak hanya diletakkan dibawah periuk, namun juga diatas periuk. Fungsinya mirip seperti oven, yang bisa memberikan panas langsung dari bagian atas dan bawah, sehingga kue lebih cepat matang dan matangnya pun merata. Sebelum adonan dituang, periuk terlebih dahulu dilapisi daun waru atau daun pisang.


Di dalam periuk tanah liat ini adonan di bakar, dengan bara di atas dan dibawah periuk


Harga satu buah kue Bika Rp.3000 rupiah, kami membeli 10 buah untuk dijadikan bekal berbuka puasa di perjalanan menuju Padang nanti. Kami berbuka puasa di daerah Lubuk Alung, atau sekitar 1 jam dari kota Padang. Bika yang memang sedari awal kami jadikan perbekalan untuk berbuka puasa, kami cicipi. Ternyata rasanya memang mirip wingko babat loh, yang berbeda hanya teksturnya yang lebih kasar.

6 comments:

  1. Jadi ini wingko babat versi minang ???? hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, sepertinya gitu sih kak :))
      abis rasanya miriippp, cuma si Bika lebih kenyang aja *gede* soalnya

      Delete
  2. iya bener mirip wingko babat :) pasti enak yah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyah enak Kak Fabi, buat ganjel buka puasa 1 buah aja udah kenyaaaang

      Delete
  3. Pasti enak banget kalo dimakan pas masih anget ya Mei. Jadi penasaran pengen cobain nih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ci deb, kemarin aku belinya pas sebentar lagi buka puasa. Masih anget :) tapi satu aja udah kenyang *elus elus perut*

      Delete

Thank you for comment :)