Up in The Air

10:29 PM Meidiana Kusuma 0 Comments

How I spent my time during the flight :)


Nice Sky (Bandung - Pekan Baru)

Getting dark (Bandung - Pekan Baru)

Jakarta - Singapore

Jakarta - Singapore

Jakarta - Ho Chi Minh City

Jakarta - Jogjakarta


0 comments:

Thank you for leaving a comment :)

'Cruise' to Mekong River

7:53 AM Meidiana Kusuma 2 Comments

Sungai Mekong ? Yes, nama sungai tersebut sudah pernah saya dengar sebelumnya di pelajaran Geografi SMP - SMU dan akhirnya di tahun ini saya berhasil mengunjungi sungai tersebut. Berawal dari kenekatan untuk ikutan lokal tur yang ditawarkan hotel, padahal saya baru sampai di hotel malam harinya dan nekat meminta untuk didaftarkan tur pagi harinya sekitar jam 6 dan tur tersebut sudah akan mulai sekita pukul 8 pagi. Lucky me, masih ada tempat untuk kami (saya dan dua orang teman). Tur yang kami pilih adalah Mekong Dellta (My Tho - Ben Tre) dengan merogoh kocek US$10. Perjalanan dimulai sekitar pukul delapan dan bis yang membawa kami menuju sungai Mekong penuh dengan turis mancanegara. Saya bertemu turis dari Malaysia, Korea, Inggris, Jerman dan masih banyak lagi. Tidak sedikit dari merekan yang berpergian seorang diri.

Dalam waktu kurang lebih 1 jam 45 menit, kami tiba di dermaga untuk melanjutkan perjalanan menggunakan perahu motor menuju Pulau Unicorn. Begitu perahu bergerak meninggalkan dermaga, saya yang memilih duduk di sisi pinggir sebelah kiri langsung mencari pemandangan bagus dan suasana sekitar yang menarik untuk diabadikan.

I found this boat during the trip to Unicorn Island

Boats near the pier

Begitu sampai di Pulau Unicorn, kami diajak ke sebuah tempat untuk mencicipi teh dan beberapa cemilan kecil. Teh tersebut tidak menggunakan gula, melainkan madu. Yang spesial dari madu ini adalah lebahnya. Ternyata si lebah yang menghasilkan madu tersebut sehari-harinya menghisap sari bunga dari pohon kelengkeng (yup disekitaran tempat tersebut memang banyak pohon lengkeng). Selain teh kami juga di siapkan buah kumquat, sejenis jeruk namun lebih kecil dan rasanya asam manis dan untuk cemilannya, kami disediakan keripik pisang, manisan jahe, dan kue kacang mirip tingting.

Nice snacks with Nice Tea

Kami melanjutkan perjalanan menyusuri sungai sempit dengan menggunakan perahu sampan kecil dengan 2 orang pendayung di depan dan di belakang serta 4 orang penumpang di tengah berjajar kebelakang. Kami pun harus duduk benar-benar di tengah dan ikut membantu menyeimbangkan kapal agar tidak miring. Sejujurnya ini adalah aktifitas yang lebih menakutkan daripada naik roller coaster buat saya *saya kan ga bisa berenang*, takut perahunya kebalik, tapi ternyata seru loh. 

in the middle of 'river cruise'

Di ujung perjalanan menyusuri sungai ini, perahu yang sebelumnya membawa kami ke Pulau Unicorn sudah menunggu. Perjalanan dilanjutkan menuju tempat pembuatan permen kelapa. Semua langkah-langkah pembuatan permen tersebut dijelaskan dengan baik dan herannya bukan dari pegawai setempat tapi dari Pemandu Tur kami sendiri loh. Saya membeli beberapa permen kepala untuk dijadikan oleh-oleh orang rumah dan teman-teman di kantor, yang ternyata meskipun cuma 6 bungkus tapi beraaaattt.

Dan aktifitas selanjutnya yang paling menyenangkan, kami dibawa menuju tempat makan siang. Jadi kalo dihitung-hitung biaya US$10 itu sebenernya sebanding, karena makan siang ini sudah termasuk *senyum lebar*, yihaaaa akhirnya saya menyicipi makanan Vietnam pertama saya. Vietnam Spring roll ini sudah pernah saya bahas di postingan sebelumnya.

 Spring Roll

Perjalanan saya belum selesai, selepas perut kenyang, istirahat cukup, jalan-jalan disekitar restoran dan foto-foto, Kami kembali lagi ke perahu dan melanjutkan tur ke kebun buah. Begitu sampai, kami disambut penduduk lokal dengan ramah dan buaaahhh warna warni yang sudah tersusun rapi di meja ditemani teh. 

Potongan buah naga, mangga, nanas, nangka dan pisang mungkin bukan hal yang aneh yah buat saya yang tinggal di Indonesia dengan iklim tropis sama seperti yang di miliki Vietnam. Lucunya orang lokal disana begitu antusias memberitahu kami buah-buah tersebut padahal di dalam hati 'yaah di rumah juga sering makan yang kayak gini', namun sepertinya untuk beberapa turis yang berasal dari eropa atau amerika, buah-buah tropis seperti nangka, nanas dan buah naga masih jarang mereka jumpai. *yes I can see it on their faces*

Fruits time
   
5 piring buah-buahan seperti yang tampak pada gambar di atas disediakan untuk 4 orang. And guess what? hanya di meja kami saja yang seluruh buah nya ludes di makan, bahkan kami masih melirik kanan kiri untuk nambah buah dan minuman hahahahahahah. 

Akhirnya one day full trip to Mekong Delta harus berakhir, puas jalan-jalan seharian, puas foto-foto, perut kenyang, tambah banyak teman :). Saya senang sekali bisa bertemu Oma Korea cantik yang usianya sudah 50-an tapi jalan-jalan ke Vietnam sebagai Solo-traveler dan tahu kah kalian, hari itu adalah hari terakhir perjalanannya setelah menghabiskan 3 bulan penuh mengitari Asia tenggara. Katanya jika suatu hari kami berkunjung ke Korea, beliau menawarkan diri untuk menjadi host dan guide. Yess maamii wait for us *aminnn*


2 comments:

Thank you for leaving a comment :)

Vietnamese Spring Roll

6:27 PM Meidiana Kusuma 4 Comments

Sewaktu ikut Local tur menyusuri sungai mekong, saya berkesempatan mencicipi makanan lokal khas Vietnam, Spring Roll. Awalnya saya hanya ditawari ikan goreng atau ikan kukus untuk makan siang, tur guide membisikan ke kami kalau makan siang yang disediakan travel biasanya dikit. Ehmm bukannya takut tidak kenyang sih, tapi saya dan teman-teman memang ingin makan ikan, karena sepertinya agak susah mencarinya di district 1, Ho Chi Minh City.

Nama ikan yang kami pesan adalah "Elephant Ear Fish" (Ikan Kuping Gajah) wooww namanya aja sudah unik banget pikir kami. Bahkan kami saja masih tidak tau ukuran ikannya yang sebesar kuping gajah, atau emang kupingnya si ikan yang sebesar kuping gajah *kuping ikan yang mana sih?*



Elephant Ear Fish


Ternyata si pelayan resto tidak hanya menyajikan ikan dengan tempat khusus saja, tapi juga menyediakan sayur-sayuran, mie putih, dan Rice paper yang awalnya sempat saya pikir tatakan piring, hehehehehe. Masih dalam keadaan bingung mau mulai makan dari mana, tiba-tiba pelayan resto dengan sigap mengambil rice paper bundar itu dan dicelup ke air yang sudah dia sediakan diwadah dan diputar sehingan seluruh bagian terkena air. Rice paper yang basah kemudian ditiriskan ke piring kecil, dan dengan sigap dia mengatur mie putih, sayuran dan menyuwir ikan. Dengan lipatan yang mirip risol , voilaaa jadilah Spring Roll yummy.


White Noodle and Vegetables *Image belong to Wenny

Roll the Spring Roll


Spring Roll with sauce

Sebagai pendamping Spring Roll biasanya disediakan kuah cocol yang berasa asam manis dan sedikit pedas. Mirip rasa saus yang biasa disediakan dirumah makan Thai Express. Rasa makanan ini enaaaaakkk, meskipun saya harus sedikit bersikeras mengeluarkan beberapa jenis sayuran yang dilidah saya terasa pahit. Itu juga karena saya memang kurang suka sayuran atau lalapan. Harga paket Spring roll ini 180.000 VND atau sekitar IDR 90.000 dan cukup untuk 6 - 8 spring roll




What's inside the spring roll *Image belong to Wenny

Saking penasarannya sama makanan ini, dihari berikutnya kami sempat mencoba memuat spring roll sendiri disalah satu resto ditengah perjalanan kami ke Cu Chi Tunnel. Dihari terakhirpun kami sempatkan mampir supermarket lokal dan membeli rice paper untuk dibawa pulang. Sudah bisa jadi koki rumah makan Vietnam di rumah deh :) 

4 comments:

Thank you for leaving a comment :)

Unique Gesture in Vietnam

10:54 PM Meidiana Kusuma 4 Comments

"Apakah kalian memperhatikan kadang Pak Supir melambaikan tangannya ke Supir di kendaraan diarah berlawanan? Mereka bukan teman, bahkan mereka tidak saling mengenal, mereka hanya memberikan sinyal atau tanda bahwa tidak ada polisi"


Ternyata penjelasan tur guide saya dalam perjalanan menuju sungai mekong ini menjadi kalimat yang melekat diingatan saya. Ditambah lagi, posisi duduk saya persis paling depan disamping Pak Supir. Awalnya saya memilih duduk disitu simpel karena ingin dengan leluasa mengabadikan pemandangan disepanjang jalan.

Buat yang belum tahu tentang lalu lintas di Vietnam, saya berikan penjelasan singkatnya dulu. Populasi kendaraan di Vietnam didominasi dengan motor, bayangkan saja sekitar 70 - 80 % kendaraan yang ada dijalan raya adalah motor. Kenapa ? ternyata hal ini disebabkan oleh pajak kendaraan di Vietnam, pemerintah mengenakan pajak mobil hingga 200% dari harga belinya, sedangkan pajak motor hanya dikenakan sekitar 20-30% dari harga belinya (info tour guide).




Di negara ini, jalur dan kecepatan maksimum kendaran diatur. Jalan-jalan besar di Ho Chi Minh City / jalanan menghubungkan Ho Chi Minh dengan kota lain biasanya terdiri dari 3 jalur atau ada pula yang 5 jalur (3 untuk mobil dan 2 untuk motor) dan biasanya aturan kecepatan maksimal kendaraan terpampang disepanjang jalan raya.


oh iya, info tambahan, mobil  di Vietnam posisi setirnya ada disebelah kiri, oleh karena itu arah kendaraan di jalanannya juga berlawanan arah dari di Indonesia. Kemarin sempat kagok juga, biasanya nyebrang nengok ke kanan dulu baru ke kiri, disini harus dilakukan sebaliknya. Jadi deh kadang-kadang terbalik atau bahkan lupa.

Kembali kepermasalahan lambaian tangan pak supir, Sama halnya dengan Jakarta, di Ho Chi Minh City juga sering terlihat polisi berpatroli dan tidak segan menilang kendaraan yang melaju melebihi kecepatan maksimum yang berlaku. Hal tersebut yang kemudian menjadi awal terjadinya bahasa tubuh antara supir kendaraan. Mereka melambaikan tangan untuk memberi informasi bahwa dijalanan yang mereka lewati tidak ada polisi.

Lalu, bagaimana jika dijalan sebelumnya mereka melihat ada polisi?

Ternyata ada bahasa tubuh lain yang mereka lakukan untuk menyampaikan info tersebut. Si supir hanya tinggal menunjuk ke arah di mana Polisi itu terihat berpatroli dijalan yang sebelumnya mereka lewati. 

Lantas apa gunanya tanda-tanda tersebut ?

Jika para supir mendapatkan info tidak ada polisi dijalanan yang akan dilaluinya, mereka dapat dengan tenang menaikan laju kendaraannya. Melaju dengan 'cepat' disini bukan berarti kebut-kebutan, biasanya hanya 80-100 km/jam saja sudah terbilang cepat. Karena rata-rata batas maksimum kecepatan disini hanya berkisar 40-60 km/jam. Tidak terbayang kan kalo kita harus menempuh jarak 250 km dengan kendaraan yang hanya melaju dengan kecepatan 40 km/jam *pantat panas dan pegel*


4 comments:

Thank you for leaving a comment :)