Ketika kebanyakan anak kecil lain kala itu sibuk membaca majalah bobo atau tabloid fantasi, saya malah sibuk melihat-lihat peta sambil menghapal ulang daftar nama negara berserta ibu kotanya, menghapal bendera negara-negara hingga sibuk menggambar ulang peta negara-negara yang saya pinjam dari atlas punya kakak. 
Sewaktu saya SD, setiap harinya guru kelas selalu memberi kami tugas sekolah yang berbeda daripada anak-anak di sekolah yang lain, selain tugas matematika atau pelajaran lain. Saya dan teman-teman lain mendapat tugas untuk menghapal isi dari RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap), materi setiap hari beda-beda, mulai dari negara dengan ibu kotanya, negara dengan lagu kebangsaannya, negara dengan mata uangnya dan masih banyak lagi. Setiap harinya akan ada murid-murid yang dipanggil bergantian ke depan kelas dan menjawab pertanyaan kuis dari guru kelas. Sisi positifnya masih banyak isi RPUL yang saya hapal hingga saat ini.
Lalu bagaimana saya bisa suka dengan peta?
Berawal dari negara-negara yang saya hapal dari RPUL tadi, saya diam-diam meminjam atlas punya kakak dan mulai mencari-cari nama negara tersebut di peta dunia. Awalnya hanya ingin membuktikan bahwa yang tertulis di RPUL adalah benar. Benar bahwa Inggris ada di benua Eropa, benar bahwa Indonesia berada di benua Asia dan mencari kebenaran-kebenaran lainnya versi RPUL. Lama kelamaan saya justru tertarik dengan gambar dan bentuk-bentuk yang ada di dalam sebuah peta kota, negara atau benua.
Memperhatikan dengan detail simbol-simbol yang digunakan untuk gunung, rel kereta api, sungai, ibu kota negara, garis putus-putus hingga lekukan garis bibir pantai.Jangan salah, sewaktu saya kecil, saya bisa menghapal nama negara hanya dengan melihat bentuk peta buta negaranya saja loh, nah kalau sekarang? cuma bisa senyum-senyum aja.

Me : "Hello sir, is your food halal?"
fast food manager (ffm): "it's about 15 - 20 minutes" (with Vietnamese dialect)
Me : "No..no, No how long but Halal"
ffm : *gave me a puzzled look*
Me : "hmmm do you have pork in your menu?"
ffm : "so...sorry I don't understand" 
Me : "pork.. ehmm pork, y'know" *pressed my nose to make it look like a pig*
ffm : "sorry miss i don't know"
Me : "ohh okay then, thank you" *left the resto with empty stomatch*

Have you ever experienced a situation when local people on your travel destination could not understand your language, even it is "English"?  
Well, although English has become universal language yet we can't expect everyone in this world understand English, right? 
Then what should we do when we travel to places where most of the people don't understand English language there? 
Should we avoid that place?



Lost in translation




You don't have to worry, you will never alone in Saigon :)

Jujur ini mungkin pertama kalinya saya mendengar ada perusahaan yang bergerak di bidang jasa yang bisa mengatur kebutuhan pakaian, laundry dan penyimpanannya di tempat tujuan perjalanan. Packnada adalah perusahaan yang berbasis di Singapura yang bergerak di bidang jasa laundry, penyimpanan pakaian dan pengantaran pakaian langsung ke hotel di sekitar Singapura.

Misinya sih sebenarnya simple, supaya si frequent flyer tersebut bisa travel light atau bahkan free dari dipusingin perihal baggage atau barang bawaan seputar pakaian.