Wednesday, August 12, 2015

Berkunjung ke Museum Anak Kolong Tangga, Yogyakarta


"Eh kamu mau ke mana, Mei?"
"Ke Museum yang dibelakang Taman Pintar situ"
"Lah ada Museum emangnya?"
"Setauku ada, dulu ada yang ngasih tau, namanya Museum Anak Kolong Tangga, ke situ yuk!"

Berkat bantuan google maps, akhirnya sampai juga saya di sebuah bangunan yang terletak di belakang Taman Pintar Yogya dan berada persis di Gedung Taman Budaya. Sedihnya, keadaan gedung taman budaya tersebutpun sudah banyak yang rusak. Mulai dari penampakan langit-langit yang bocor, ubin tangga yang retak dan cat dinding yang terkelupas. Palang tanda Taman Budaya memang terlihat jelas di belokan jalan Panembahan Senopati menuju jalan Sriwedari namun tidak ada petunjuk apa-apa lagi setelah berbelok. Saya dan Emi (teman baru yang sekamar dengan saya di Edu Hostel) sampai ragu untuk masuk ke dalam.
"Mei, ini seriusan buka museumnya? apa udah tutup?"
"Ini bukan senin sih, itu spanduknya juga masih ada, harusnya masih buka"

Kaki-kaki ini perlahan menaiki tangga Gedung Taman Budaya dengan hati-hati. "Asli! ni gedung horor amat sih, ubinnya licin, ada yang retak" ungkap Emi heran sambil sesekali celingukan ke pintu dan langit-langit. Dinding warna-warni langsung kami temui begitu memasuki gedung Taman Budaya, ada sebuah kios kecil di samping pintu bertandakan "Masuk" yang lucunya apabila kita berada di tengah pintu tersebut, kita serasa sedang bermain permainan ular naga panjang.



Harga tiket masuk hanya 4000 rupiah namun karena saya membawa kamera, ada biaya tambahan lagi. Staff museum juga menawarkan sebuah booklet kepada saya, namun saya tolak, 

"Ini booklet untuk apa, Mba?" 
"Ini penjelasan barang-barang di dalam" 
"Oh ngga usah deh, terima kasih"

Ternyata semua mainan-mainan yang didisplay di dalam memang diberikan nomor urut namun tidak ada keterangannya sama sekali (duuhh, jadi nyesel ga beli booklet). Di sebelah kanan dan kiri pintu masuk terdapat mainan boneka berwajah sedikit seram yang besar sekali, hmm ini termasuk jenis wayang golek juga sih yah seharusnya.

Museum ini berisi mainan-mainan anak dari jaman penjajahan Belanda hingga mainan saat ini. 80% koleksi adalah mainan tradisional Indonesia ataupun mainan-mainan produksi Indonesia loh. Uniknya, pencetus berdirinya museum ini justru tidak berasal dari orang Indonesia melainkan dari Rudi Corens, seorang seniman asal Belgia yang tertarik dengan permainan anak-anak Indonesia sekaligus khawatir permainan tradisional dan anak-anak tersebut akan mulai dilupakan dan hilang.


ini dulu sering dijual di depan SD

Tempatnya memang tidak terlalu besar dan museum ini disebut "kolong tangga" karena memang terletak persis di bawah (kolong) tangga di dalam gedung Taman Budaya. Jujur, museum ini rasanya lebih cocok untuk didatangi oleh anak-anak kelahiran 1996 kebawah, karena sebagian besar koleksi mereka bisa membuat kita kembali ke masa anak-anak dulu. Lebih seru lagi, jika anak-anak kecil yang masuk ke museum ini mengajak serta orang tua atau bahkan kakek dan nenek mereka ke sini, karena akan ada banyak sekali cerita dari mereka mengenai beberapa mainan tersebut. 

Sore itu, saya tidak hanya berdua dengan Emi di museum ini. Kami juga ditemani 4 pengunjung lain, sepasang kakak-beradik, mamanya dan neneknya. Sang nenek dan mama begitu antusias menjelaskan beberapa permainan yang dulu pernah dimainkannya atau dimilikinya, lalu komentar si anak juga sungguh lucu. 
"Uti (sebutan eyang perempuan dalam bahasa Jawa) dulu mainnya kayak gini?" seru cucu laki-lakinya sambil menunjuk salah satu koleksi.
"Iyah dulu Uti punya mainan itu"
"Oh mainannya dari kardus atau kertas gitu yah, simpel amat"


 Dulu punya mainan ini, sama persis!

 Kakak saya juga punya mainan ini

Scrabble, eh sekarang masih suka main sih

Deg! iya juga sih, anak-anak jaman sekarang mungkin banyak yang ngga tau betapa asiknya main tepokan kartu, orang-orangan kertas yang bisa dipakaikan baju, hingga permainan karet gelang yang disimpul satu persatu. Mainan-mainan lama dari kaleng dan robot-robotan juga ada di tempat ini, sesekali saya dan Emi ketawa-ketawa sendiri saat melihat beberapa koleksi yang mengingatkan kami akan jaman kanak-kanak kami. Museum ini sebenarnya memiliki nilai edukasi yang cukup tinggi, sayang kondisi museumnya agak kurang memadai, ditambah kurangnya informasi yang ada di tiap-tiap koleksi membuat pengunjung seperti cuek dan berjalan sambil lalu di beberapa koleksi. (makanya Mba, bookletnya dibeli).

Museum Anak Kolong Tangga
Jl. Sriwedani no.1 Purwokinanti
Pakualaman, Yogyakarta 


14 comments:

  1. Hey, ini seru karena konsep dari si museum sangat unik. Awalnya saya mengira suasana di dalam museum juga akan suram dan gelap karena ada di kolong tangga tapi koleksinya sangat menarik. Memang dari semua mainan itu yang saya kenal baru scrabble tapi tahu cerita sejarah dari balik mainan tua tentu akan memuaskan rasa penasaran. Ah, saya mesti ke sana kalau kebetulan ada di Yogya :)).

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebenernya sih masih agak suram sih, tapi untungnya emang pencahayaannya lumayan ok, mungkin karena ventilasinya bagus. Nah itu dia, jadi nyesel ga belli booklet hahaha

      Delete
  2. meeeii... itu wooden blocks nya aku kgn ama punyaku duluuuu ^o^ skr mah udh g dijual yg bgitu lagi ya... adanya dr gabus dan ga gitu bgs -__-.. ihh pgn kesana jg aku...

    ReplyDelete
    Replies
    1. muwhahahah aku juga punya si balokk, ini kalo aku tunjukin foto-fotonya ke si mamah pasti dia ketawa ketiwi nginget jaman aku sama kakakku pas bocah :3, dulu mainan lebih awet yah kak

      Delete
  3. Lucuuuuuu ... boleh lah mampir2 sebentar

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah, sambil mengenang masa lalu yaah omcum

      Delete
  4. Waktu itu aku sempet kesini... Tapi ngga jadi liat2 karena agak menyeramkan mungkin karena udah sorean & gelap -_-"

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihihihi aku juga awalnya sempet ragu masuk abisnya dari depan suram-suram gitu kak

      Delete
    2. wah kersseruan yang tidak akan pernah tergantikan nih :D

      Delete

Thank you for comment :)