Bertempat di gedung SMESCO Jakarta, acara SMESCO Netizen Vaganza 2015 berlangsung selama dua hari 26 - 27 September 2015. Acaranya gratis dan terbuka untuk umum. Selama dua hari tersebut terdapat 6 workshop setiap harinya. Saya kebetulan datang di hari ke 2, dan berkesempatan mengikuti 2 buah workshop yang diadakan di jam terpisah. Sebelumnya saya sudah pernah membahas SMESCO loh, tapi pada waktu itu saya sendiri tidak sempat belanja apapun gara-gara kelupaan bawa uang dan ATM, hahahahahahahaha. Tapi hari minggu lalu akhirnya kalap beli batik sama baju (haduuuhhh)


Basic Travel Writing by Agustinus Wibowo

Buat yang belum tau, Agustinus Wibowo ini adalah seorang penulis buku perjalanan. Titik Nol, Selimut Debu dan Garis Batas adalah beberapa karya tulisannya bisa kalian baca. Mas Agus sebelumnya sempat mejelaskan, cerita perjalanan tentu berbeda dengan panduan wisata. Panduan wisata berisi detail perjalanan hingga bujet yang dibutuhkan selama perjalanan. Sedangkan cerita perjalanan menceritakan dari sudut pandang yang berbeda, bisa menceritakan kisah seseorang yang ditemukan di perjalanan, pergolakan bathin yang terjadi, dan kisah menarik apapun yang ditemukan selama perjalanan. Buku cerita perjalanan yang sukses adalah yang bisa mengajak pembacanya merasakan secara langsung apa yang dirasakan oleh penulis melalui tulisan di bukunya. Salah satu buku cerita perjalanan yang paling terkenal adalah Eat, Pray and Love karya Elizabeth Gilbert. 

Saat sesi tanya jawab, ada seorang penanya yang menanyakan bagaimana caranya untuk mendapatkan cerita perjalanan saat melakukan perjalanan? mas Agus menjelaskan, bahwa kita harus mencoba mencari sudut pandang yang unik. Misalnya saat berkunjung ke Candi Borobudur, jika hanya bererita tentang candinya itu sendiri mungkin dirasa biasa, karena sudah banyak orang yang berkunjung ke sana dan melihat Candi Borobudur secara langsung. Mengapa tidak kita cari sisi lainnya, misalnya momen ketika Candi Borobudur dibersihkan. Tidak banyak orang yang mengetahui tata cara pembersihan sebuah candi kan? dan yang pastinya candi sebesar itu tidak mungkin dibersihkan sendirian plus tidak mungkin menggunakan lap kan? hehehehe

Pembahasan cerita perjalanan yang sebenarnya sedikit berat, bisa dibawakan dengan santai dan terasa ringan oleh mas Agus loh.Wiihhh thank you banget SMESCO, saya jadi bisa ikutan workshopnya penulis kece yang satu ini.



VLOG Tips and Tricks by Sacha Stevenson

Workshop berikutnya yang saya ikuti adalaha Vlog Tips and Tricks oleh Sacha Stevenson. Sacha (Sasya) ini sebelumnya sudah sering saya lihat di TV saat mengikuti program lawak di stasiun TV swasta. Namun akhir-akhir ini wajahnya jarang kita lihat, ternyata kesibukannya saat ini adalah membuat video yang kemudian diunggah ke situs youtube. Beberapa kali saya pernah sih nonton videonya Sacha, menarik lucu dan menyentil. Iyahh, isi video yang dibuat Sacha lebih keseharian orang Indonesia di mata para expat atau bule. Coba deh cek youtube channelnya Sacha Stevenson. 

Kemarin Sacha membagi cerita tentang awal mulanya beliau membuat video, dimulai dari iseng-iseng hingga saat ini uang yang dihasilkan dari video-video tersebutlah yang menjadi mata pencaharian Sacha. Loh kok bisa dapat uang dari youtube, ini sih sama aja kayak para pengguna twitter atau Instagram, bedanya kalo di Twitter atau Instagram penggunanya mungkin diendorse produk untuk diiklankan di akun tersebut, Nah kalo di youtube, selain hal tersebut bisa digunakan, iklan yang biasanya muncul di depan video juga ternyata menghasilkan loh. Dihitungnya berdasarkan jumlah views, well Sacha kemarin juga kurang ingat dengan pasti uang yang diterima (kira-kira $1,5 untuk 1000 views) coba deh diitung kalo kalian punya 100 video dan masing-masing punya minimal 1000 views, itu berarti 1,5 x 100 = $150.

Sacha juga menambahkan video sebaiknya tidak terlalu panjang kira-kira 2 menitan aja, tapi jika isi dari video dirasa amat menarik ada juga sih yang sampai 4 menitan. Eh videonya di unggah Sacha ke Youtube juga kayaknya ada yang berdurasi 10 menit sih. Karena beberapa video yang dibuat Sacha satire, tidak sedikit komen negatif yang dia jumpai di komen video-videonya. Awalnya dia sempat stress melihat kelakuan para hatersnya ini, namun lambat laun dia berusaha untuk cuek. Tapi jika dirasa memang sudah terlalu ribut, Sacha juga pernah mengedit videonya agar tidak menyinggung orang banyak. Mau jadi youtuber juga kayak Sacha? saya sih masih belum ahli ngambil video hahahah jadinya masih belum yakin.



Selain beberapa workshop yang diadakan diadakan di gedung SMESCO, di pelataran luar gedung juga terdapat bazaar dan SMESCO Art. Di panggung depan diadakan lomba band tingkat SMA (ehh bener SMA ga ya? hahahahha ga tampang SMA soalnya kemarin). Yang menyenangkan adalah kumpulan food truck yang ikutan meramaikan acara bazaar tersebut. Makanan yang dijajakan juga variatif, dari frozen yoghurt, mie, burrito, ayam goreng, shawarma dan masih banyak lagi. Semua food truck yang berkumpul di situ benar-benar produk a.k.a perusahaan lokal.

Wahh ga sabar nungguin acara Netizen Vaganza berikutnya nih :)



Kali ini saya akan membagi cerita dan tahapan dalam pembuatan visa tourist untuk mengunjungi Jepang. Sebagai informasi, paspor yang baru saya perpanjang masih berupa paspor biasa, bukan e-paspor sehingga saya tetap mengajukan visa berkunjung ke Jepang di kedutaan Jepang bukan visa waiver.

Biar tidak salah presepsi juga, visa yang saya ajukan adalah visa kunjungan sementara untuk kunjungan wisata dengan biaya sendiri. Saya mengurus sendiri dan bisa dibilang lumayan mepet sama tanggal keberangkatan yang hanya terpaut seminggu setelah visa disetujui. Kedutaan Jepang terletah di jalan MH Thamrin dan berada persis di sebelah pusat perbelanjaan Plaza Indonesia dan The Plaza serta bersebrangan Hotel Pullman Thamrin.

Mengingat bahwa sebentar lagi kita akan merayakan haria Raya Idul Adha, saya jadi teringat tentang perayaan hari raya tersebut 3 tahun silam. Bertempat di Dubai, di mana untuk pertama kalinya saya berIdul Adha jauh dari keluarga. Berlebaran jauh dari negara asal mungkin merupakan suatu yang berbeda, tidak hanya untuk saya yang ketika itu sedang liburan di Dubai, namun juga untuk teman-teman yang saat itu bekerja atau pendidikan di sana. Berlokasi di Konsulat Jendral Republik Indonesia di Dubai, United Arab Emirates, ternyata tidak sedikit warga Indonesia yang datang mengikuti solat ied berjamaah hingga bercengkaram bersama warna Indonesia yang tinggal di Dubai lainnya.

Ada yang berbeda di Idul Adha saat itu, jika biasanya disetiap perayaan di Indonesia bisa dengan mudah kita menemui hewan-hewan kurban yang ditambatkan di samping masjid atau musholla tidak demikian di tempat ini. Pemerintah Dubai melarang penyembelihan hewan di masjid dan di rumah-rumah, penyembelihan hewan kurban hanya diperbolehkan di tempat penjagalan hewan. Jadi setiap Idul Adha, yang terlihat berbeda di masjid-masjid hanya kerumunan orang yang mengikuti sholat Iednya saja, selebihnya mereka kembali ke rumah masing-masing dan melanjutkan aktifitas. 

Taman KJRI yang baru diberesin sehabis Sholat Ied

Loh? lalu kalo mau berkurban bagaimana? saat saya tanyakan kepada om yang kebetulan bekerja di Dubai, beliau mengatakan biasanya sudah ada petugas atau bada pengurus yang mengurus hewan kurban dan orang-orang yang ingin berkurban hanya tinggal membayar ke mereka. Namun rata-rata orang Indonesia di sini lebih memilih membeli hewan kurban di tempat asal mereka di Indonesia. 

Sholat Ied saat Idul Adha 2012 kemarin pun, seluruh ruangan luar dan taman di konjenpun penuh dengan jamaah yang hendak melaksanakan sholat. "Wah ternyata ramai juga yah orang Indonesia di Dubai?" pikirku dalam hati. Beberapa orang juga tampak sibuk mempersiapkan makanan khas lebaran di tenda yang sudah disiapkan, beberapa orang yang biasanya membantu staff KJRI adalah TKW yang bermasalah, mulai dari yang kabur dari majikan hingga tidak memiliki surat lengkap. Biasanya mereka dipondokan di KJRI (jika memungkinkan) sebelum diurus surat-surat dan dideportasi ke tempat asal. 

Ayo antri makan ketupat dulu

Minuman Sodanya pake bahasa Arab

Makanan yang dihidangkan tetap komplit mulai dari ketupat, sayur labu, opor ayam, hingga sambal goreng kentang. Porsi yang dibuat KJRI juga lumayan banyak karena biasanya memang warga Indonesia yang datang juga banyak. Dan benar saja, makanan yang disiapkan ibu-ibu diplomat dan staff KJRIpun ludes seketika. Liburan hari raya seperti itu biasa digunakan para perantau di negara tersebut untuk bersilahturahmi dengan sesama warga Indonesia, meskipun tidak sedikit warga negara lain yang ternyata pasangan warga Indonesia yang ikut datang dan meramaikan acara.

Ah iyaa, ada yang seru juga sewaktu menjelang Idul Adha di sini. Jika di Indonesia mungkin banyak orang yang takbir keliling di malam sebelum perayaan Idul Adha, di Dubai meskipun takbir juga terdengar, beberapa pusat perbelanjaan juga memutuskan untuk buka selama 24jam. Hasilnya? saya sampai terbengong-bengong melihat ice rink yang masih begitu ramai padahal waktu menunjukan pukul 1 pagi waktu setempat *segitu panasnya yah Dubai, sampe pada bahagia banget ice skating dini hari* hahahaha

ihiiyy Dubai Mall buka 24jam

Ada yang punya pengalaman ber-Idul Adha di Negara lain?   


Salah satu objek wisata di Hong Kong yang membuat saya dan teman-teman penasaran dan excited untuk mengunjungi adalah Ngong Ping Village. Objek wisata ini berada di pulau yang sama dengan Disneyland namun berada di sisi yang berlainan. Sebelumnya pernah membaca tentang tempat ini dari postingan Ci Debby dan Kak Bama, yang satu bererita tentangan kunjungan saat sedang cerah sedangkan yang satu lagi saat sedang berkabut. Lalu bagaimana dengan kunjungan saya? cuaca saat itu memang agak dingin dan sedikit berkabut namun untunglah pemandangan indah Ngong Ping Village masih dapat terlihat. Objek utama di tempat wisata ini adalah Tian Tan Buddha sebuah patung Buddha raksasa yang berada di atas bukit dan harus saya tempuh dengan menaiki ratusan anak tangga. 

Ceritanya waktu itu sengaja keluar hostel pagi-pagi demi menghindari antrian panjang cable car, hahahaha ternyata sudah sampai jam 9pun antrian sudah panjang, mungkin memang nasib. Sebenarnya selain menggunakan kereta gantung, untuk menuju Ngong Ping Village juga bisa ditempuh dengan menggunakan bis umum dengan nomor 23. Bis tersebut bisa jadi solusi untuk teman-teman yang takut ketinggian atau disaat kereta gantung berhenti beroperasi. Biasanya kereta gantung berhenti beroperasi ketika cuaca buruk dan pada saat jadwal perawatan kereta gantung.


*Jika ingin antrian yang sedikit lebih pendek, coba deh pilih Crystal Cabin, tapi ga saya sarankan untuk teman-teman yang takut ketinggian yah*




Ada apa aja di Ngong Ping Village?


Selain Tian Tan Buddha di Ngong Ping Village juga ada beberapa tempat wisata lain, seperti Po Lin Monastery, Wisdom Path (tempat ini jadi tenar banget gara-gara dipake tempat syuting Running Man), Li-nong Tea House, Walking with Buddha show, dan Bodhi Wishing Shrine. 


Karena keberanian saya terhadap ketinggian berada di bawah garis normal, jadi saya batal naik Crystal Cabin dan memutuskan untuk naik Standard Cabin ga peduli lah antriannya lebih panjang, yang penting bisa sampai dengan selamat dan hati tenang ahhahahah. Katanya perjalanan 'cuma' ditempuh selama 25menit dengan kereta gantung tersebut, tapi kok yah aku ngerasa kayak sejam. Lamaa banget gak sampe-sampe hahahah.




Mejeng di depan Bodhi Wishing Shrine
(Berasa di Jepang masaa hahahahaha) 

Sepanjang perjalanan dari Cable car staion di Ngong Ping hingga ke arah Po Lin Monastery ada banyak tempat makan dan tempat souvenir. Untuk tempat makan ada beberapa pilihan seperti subway, Matsuzaka express (sushi), Ebeneezer;s Kebabs & Pizzeria dan masih banyak lagi. Kemarin sempat mau icip dessert di Honeymoon dessert, tapi udara semakin dingin aneh juga kalo dingin-dingin makan es serut, jadi milih makan gelato aja #laaahh. 

Setelah selesai cemil-cemil, kami kembali fokus untuk berjalan menuju tujuan utama kami ke tempat ini, Big Buddha. Baru beberapa meter dari deretan restaurant, kami fokus kami kembali diuji dengan banyaknya deretan tempat oleh-oleh lucu dan showcase cable car cabin yang berasal dari penjuru dunia, jadi semacam Open Air Museum. 





 Salah satu toko favorit



Ternyata udah tinggal beberapa meter menuju tangga paling bawah Tian Tan Buddha, lagi-lagi kami lost focus gara-gara bertemu these not-so-little dogs. Iyah semuaaanya lost focus, teman-teman saya pada sibuk main dan foto sama anjing-anjing lucu ini, sementara saya juga ikut foto-foto tapi dari jarak 50 - 100 meter hahahahha.




Geng ransel - sebagian ransel baru beli di Giordano HK hahahaha

Setelah semuanya sibuk berdoa supaya kuat sampai atas, akhirnya satu persatu menginjakan kaki di tangga menuju atas. Sampe ke atas? Yesss sampe semua dong, meskipun sambil terengah-engah. Ada apa di Tian Tan Buddha? Ternyata bukan hanya sebuah patung buddha berukuran besar saja yang ada di atas bukit tersebut. Di dalamnya terdapat ruangan 3 lantai yang memiliki fungsi yang berbeda. Di hall paling bawah, bisa kita temukan foto-foto beberapa orang yang sudah meninggal dan sepertinya keluarga mereka sering mengunjungi untuk mendoakan. Di memorial hall lantai 3, terdapat barang peninggalan Buddha. Dianggap sebagai benda suci, peninggalan tersebut merupakan bagian dari Buddha diawetkan tetap setelah ia mencapai Nirvana 2500 tahun yang lalu.

Di ruangan tengah di lantai 1 terdapat lonceng berukuran besar yang hingga saat ini masih aktif digunakan. Selain itu di lantai tersebut juga terdapat 4 lukisan besar yang bercerita tentang kehidupan Buddha. Sedangkan di lantai 2 terdapat ukiran kayu besar yang menceritakan ""Hua Yan Dharma Preaching", ukirannya juga sangat detail, tidak heran ukiran tersebut baru selesai dikerjakan setlah 7 tahun.

Di bagian luar terdapat 6 patung Dewa yang digambarkan sedang mempersembahkan sesuatu untuk Buddha, mulai dari bunga, lampu hingga musik.  


Saran saya sih, jika ingin mengunjungi tempat ini coba pilih saat cuaca di Hong Kong agak adem seperti di penghujung bulan Maret atau April. Kadang bisa saja sedikit berkabut, tapi cuaca jauh lebih bersahabat ketimbang jika mengunjungi tempat ini di saat musim panas.

Cara mengunjungi Ngong Ping Village:


Cable Car


- Naik MTR Tung Chung line dan turun di Tung Chung station

- Setelah keluar MTR station berjalan menuju Cable Car station (tinggal mengikuti arah petunjuk)

Harga Cabin Cable Car:


ROUNDTRIP

Standard Cabin : Dewasa HKD 165 ; Anak (3-11 th) HKD 85 ; Senior (>65 th) HKD 115
Crystal Cabin    : Dewasa HKD 255 ; Anak (3-11 th) HKD 175 ; Senior (>65 th) HKD 205
Mixed Cabin : Dewasa HKD 230 ; Anak (3-11 th) HKD 150 ; Senior (>65 th) HKD 180
(1 Std + 1 Crystal)

SINGLE TRIP
Standard Cabin : Dewasa HKD 115 ; Anak (3-11 th) HKD 60 ; Senior (>65 th) HKD 80
Crystal Cabin : Dewasa HKD 180; Anak (3-11th) HKD 125; Senior (>65th) HKD 145

Bus
Selain menggunakan Cable Car, tempat ini juga dapat ditempuh menggunakan bus lokal, terminal bus berada tidak jauh dari Tung Chung MTR station, untuk sampe ke Ngong Ping Village naik bis nomor 23 dan akan berhenti di bagian tengah Ngong Ping Village.

Singapura sepertinya masih jadi destinasi favorit liburan ke luar negeri untuk solotrip, barengan sahabat, pacar, pasangan atupun keluarga. Selain ini adalah negara tetangga yang paling dekat, tiket promo ke tempat ini juga paling sering ditemukan.

Akhir-akhir ini, saya sering mendapatkan email yang berisi pertanyaan tentang penginapan di Singapura. Karena saya tidak begitu sering pergi ke Singapura, saya merasa tidak banyak yang bisa saya rekomendasikan. Di Singapura sendiri, banyak sekali pilihan tempat untuk menginap, dari hostel, hotel, serviced apartment, sewa apartment hingga bungalow. Di manapun itu, asalkan tempatnya nyaman, aman dan menyenangkan. Sejauh ini saya lebih sering menginap di 5 footway.inn group. Lain waktu sepertinya mau mencoba Naumi Liora dan Wanderlust hotel. Untuk menambah informasi juga, akhirnya saya mencoba bertanya ke beberapa teman-teman sesama pejalan, dan ini rangkumannya. 

Mau tau penginapan favorit di Singapura dari beberapa teman-teman pejalan dan blogger? Siapa tau bisa jadi salah satu ide tempat menginap untuk perjalananmu selanjutnya, check this one out

1. Somerset Liang Court - Debbzie Leksono


Sumber : booking.com

Setiap trip ke Singapura selalu diagendakan buat check-up kesehatan papa dan mama, atau seringnya transit beberapa hari setelah long haul flight sehabis liburan di benua Eropa. Karena mengutamakan fasilitas kamar yang lengkap, kami memilih untuk tinggal di 2 bedroom serviced apartment. Saat ini favoritku adalah Fraser Suites River Valley dan Somerset Liang Court. Setiap unit apartment mempunyai fasilitas dapur lengkap dengan alat masak dan makan, ruang tamu, ruang makan danmesin cuci (penting nih buat laundry sekoper penuh pakaian kotor setelah liburan panjang, hehehehe).

It's like home, away from home. Kalau disuruh memilih, Somerset Liang Court yang paling ideal. Lokasinya hanya selemparan bakpao dari tempat Hang hout Clarke Quay, plus dempetan sama Liang Court Shopping Mall. Horeeee! Jadinya mudah buat cari makan dan belanja keperluan di supermarket. Love!








Debbzie Leksono

Blog : My Time Capsule
Twitter : @twitdebbzie
Instagram : @debbzie_leksono


2. Village Hotel Katong - Timothy W Prawiro



Biasanya kan orang-orang ke Singapura tujuannya buat shopping. Nah terus kalau lagi bosen ke mana dong? Udah pernah nyobain ke daerah Katong belum? Itu lho yang deket2 sama East Coast. Jarang-jarang kan ya di sana? Haha.

Tahun lalu sempat nginep di daerah sana, di penginapan yang namanya Village Hotel Katong. Bingung juga kok bisa ada ya hotel daerah sana, bukannya (sepertinya) daerah residensial ya? Pas sampe sana, memang bener sih, ternyata ini daerah residensial, banyak apartemen-apartemen ... dan nyelip lah Village Hotel Katong di sana :-)

Kalau kamu liat tampak luarnya, kamu pasti pernah ngeliat bangunan dengan design serupa di daerah Bugis. Iya bener, mereka memang satu group. Ternyata konsep dari Village Hotel adalah biar tamu-tamu bisa lebih merasakan hidup seperti 'orang lokal' Singapura.

Dari luar memang tampak seperti bangunan dengan design lama ya, tapi jangan salah! Jeroannya tokcer abis! Itu sudah bisa terliat dari saat check-in, di mana area lobby nya ... maknyos ... apik banget, design-nya okay bangets and very colourful! Sampe ke kamarnya pun bener2 takjub, karena cantik banget dengan banyak design etnik nya. Kamar mandinya pun super clean! Trus, ga usah kawatir dengan colokan, karena sudah tersedia banyak dengan 'lubang' colokan universalnya.








Timothy W. Prawiro

Blog : Mixed Up Already
Twitter : @timothywprawiro
Instagram : @timothywprawiro


3. Beary Best - Rinta Dita 


Pertama nginep di Beary Best waktu tahun 2012  gara-gara penasaran waktu browsing kok lucu interiornya warna warni dan banyak boneka beruang dimana-mana. Udah gitu lokasinya strategis di Chinatown yang deket banget sama MRT, tapi neighborhood-nya gak sepadat yang di Pagoda Street. Kamarnya bersih karena semua tamu diwajibkan copot alas kaki dan nyimpen sepatunya di rak sepatu, gak boleh dipake ke kamar. Seperti hostel-hostel yang lain, kamarnya ada mixed dorm dan female dorm dengan tarif yang menurut saya cukup worth it. Masing-masing bed ada lampu dan colokan-nya. Kamar mandinya juga bersih dengan fasilitas yg lengkap, ada air panas dan hairdryer. 

Fasilitas standar seperti free wifi dan breakfast udah pasti ada, trus mereka juga menyediakan minuman dan cup noodles, jadi kalo laper atau haus gak perlu keluar hostel, tinggal beli di sana aja. Yang paling penting menurut saya sih di sini staff-staffnya ramah dan baek semua, trus ada yang ganteng pula #eh. Karena pengalaman menginap yang mengesankan itu setelahnya kalo ke Singapore lagi pasti nginep di sana. Selain udah males nyari-nyari lagi, kalo udah pernah nginep di Beary Best kita otomatis jadi member yang namanya Beary's friend. Nah Beary's friend ini pasti dapet harga diskon khusus di bawah publish rate kalo mau nginep lagi di sana.

Tips: jangan lupa bawa gembok sendiri buat ngunci locker, karena di sana tidak disediakan. Kalo kamu perlu privacy, pilih yang lower bed karena ada gordennya :D









Rinta Adita

Blog : Males Mandi
Twitter : @rintadita
Instagram : @rintadita


4. Landmark Village Bugis Hotel - Tesya


Foto milik Tesya

Kalau ada yang tanya saya, "Mba, saya pertama kali ke Singapura dengan keluarga, sebaiknya menginap dimana?" Saya selalu bertanya dulu, "Budget-nya berapa?" Kalau dijawab sekitar SGD150 per malam, saya selalu merekomendasikan Village Hotel Bugis. Hotel ini juga yang saya pilih sewaktu membawa keluarga pertama kali berlibur ke Singapura.

5 Alasan Menginap di Village Hotel Bugis menurut saya adalah:

1) Lokasi yang strategis. 
Hanya 5 menit berjalan ke MRT Bugis. 5 menit menuju Queen Street Bus Terminal, bus tujuan ke Johor Bahru. Untuk yang mau melakukan Legoland trip, cocok banget menginap di sini.

2) Dekat dengan wisata kuliner halal yang wajib di Singapura: Murtabak Zam-Zam. Baiklah, mungkin  Murtabak Zam Zam terlalu subjektif:p Di dekat hotel (daerah Arab Street) banyak tersedia makanan halal, secara ya...deket banget dengan Sultan Mosque. 

3) Hotel ini dilewati SAEX Bus, bus khusus untuk menuju Singapore Zoo. 
Lupakan saja naik MRT dan bus menuju Singapore Zoo, jauh dan lama banget! Bus SAEX ini nyaman menjadi moda transportasi dari hotel menuju Singapore Zoo dan sebaliknya. Ohya, kenapa Singapore Zoo? Karena untuk keluarga yang pertama kali ke Singapura, salah satu tempat yang saya rekomendasikan adalah mengunjungi kebun binatang ini.

4) Kolam renang yang besar dan bagus.
Kalau bawa anak, udah cape seharian jalan-jalan, paling asyik kalau bisa chilling out di kolam renang, ya kan?

5) Kamar yang luas
Rata-rata ukuran kamarnya 32m, so your kids will have ample place to move. Ohya, pihak hotel juga enggak masalah tuh kami membawa 2 anak. Males kan kalau menginap di hotel yang mengenakan biaya tambahan untuk anak? 







Tesya

Blog : Tesyasblog dan Tesyakinderen
Twitter : @tesyasblog
Instagram : @tesyasblog


What cuma 4? iyahh ini masih ongoing project kok, ditunggu update-annya yahh :)

Baca Juga:
Penginapan Favorit Teman Pejalan di Bandung
Makanan Jawa dan Sunda sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari di rumah, makanan Sumatera juga sesekali mencoba, well meskipun cuma sejauh nasi padang dan pempek palembang. Pas saya mengetahui Hotel Kempinski Indonesia punya acara seru selama 5 minggu bernama 5 Islands in 5 weeks, saya ga mau ketinggalan ikutan. Pilihan menu tiap harinya juga ganti-ganti sesuai dengan menu daerah mingguannya.

Bertempat di Signature Restaurant, event yang sekaligus kampanye Hotel Kempinski Indonesia untuk lebih mengenalkan makanan Indonesia ke masyarakat umum ini berlangsung dari tanggal 5 Agustus hingga 8 September kemarin. Makanan yang disajikan Signature Restaurant dalam jangka waktu 5 minggu tersebut adalah menu masakan daerah Sumatra, Jawa, Bali-Lombok, Kalimantan dan Sulawesi-Maluku. Lalu manakah yang saya pilih? tentunya menu masakan yang paling sedikit saya ketahui dan pernah saya icip, diantaranya Kalimantan dan Sulawesi-Maluku. 


Buat anak-anak Jakarta, Bandung adalah salah satu tujuan berakhir pekan. Udara yang lebih sejuk, tempat belanja dan wisata kuliner menjadi salah satu tujuan utama mengunjungi kota Bandung. Saya sendiri terbilang sering berkunjung ke Bandung. Sebenarnya ada saudara yang berdomisili di Bandung, namun setiap mengunjungi kota ini saya lebih memilih menginap di tempat lain. Selain agar tidak merepotkan keluarga di Bandung, menginap di penginapan justru akan membuat saya menjelajah dan semakin mengenal kota yang biasa disebut Kota Kembang.

Daerah favorit saya menginap di Bandung adalah daerah Dago dan Riau, alasannya simply karena mobil travel dari Jakarta banyak yang memiliki shelter di Dago/Riau dan di sekitar tempat tersebut juga banyak dipenuhi tempat jajanan seru (jajan is number one). Sebagai referensi lain, berikut ini beberapa tempat menginap favorit beberapa teman pejalan dan blogger di Bandung:

1. Sayana Bed & Breakfast - Kania Kismadi


Foto milik Kania