Monday, January 18, 2016

Sydney Festival 2016 : Arquitectura de Feria - Parramatta


Dalam rangka menyambut Australian Day yang ke 40, New South Wales khususnya Sydney menggelar banyak acara dan pertunjukan seru selama hampir satu bulan. Berawal dari tanggal 2 Januari hingga puncaknya di tanggal 26 Januari, warga lokal dan pendatang banyak disuguhkan acara-acara keren berbayar maupun gratis di Syndey Festival. Mulai dari bazaar, pertunjukan musik, pertunjukan drama, pertunjukan sulap, pameran bunga, taman bermain dan puncaknya adalah Ferry race + kembang api kece di Darling Harbour. 

Berhubung faktor U1 yaitu Uang, saya memilih mendatangi beberapa acara yang sifatnya gratis. Pertunjukan musik? issshh bukaannn yang mau saya bahas di artikel kali ini bukan pertunjukan musik. Berhubung faktor U2 yaitu Usia, sekarang suka jadi pusing sendiri kalo nonton konser (kecuali konser Jazz) hahahahahha. 

Hari Sabtu yang lalu, saya mampir ke sebuah suburb atau kota satelit yang letaknya kurang lebih 23 km dari pusat kota Sydney. Kota ini bernama Parramatta, yang berarti belut dalam bahasa Aborigin. Stasiun kereta di kota ini termasuk besar dan memiliki akses langsung ke Westfield. Westfield itu semacam franchise mall terbesar di Sydney, mungkin kalo di Jakarta semacam Lippo Mall. 

Mainan yang satu ini akan berputar kalo tuasnya dipompa kayak pompa air manual

Perayaan Sydney Festival di kota ini, berpusat di Prince Alfred Square, sebuah taman yang hampir berbentuk kotak sempurna yang terletak kurang lebih 5 menit dari stasiun kereta dan berada persis di sebelah Riverside Theater dan Saint Patrick's Cathedral. Dalam rangka Sydney Festival, di taman ini dibuat sebuah taman bermain yang diberi nama Arquitectura de Feria.

Mainan komidi putar yang ini juga bergerak kalo ada orang yang gowes sepeda

Itu mas-mas yang pake kacamata item adalah penjaga wahananya, kekerenan yess

Mini Cavallet

Arquitectura de Feria ini merupakan sebuah taman bermain bertema old-style Europian yang ternyata memang didesain oleh sebuah keluarga Eropa, Jorda Ferre dan Oscar de Paz. Uniknya semua permainan yang ada di taman bermain ini menggunakan barang-barang bekas dan digerakkan dengan kekuatan manusia, kalo di Indonesia sih bahasa kecenya odong-odong. 

Ini ayunan plus tempat santai buat para bapak dan ibuk

Yang boleh ikutan main di sini juga ada aturan tinggi dan berat badan (demi keselamatan), buat para orang tua juga amat sangat dianjurkan untuk ikutan datang karena selain ada pojok ayunan santai sambil mendengarkan musik untuk dewasa, kekuatan para orang dewasa ini dibutuhkan untuk menjadi sukarelawan dalam memutar tuas atau menaik-turunkan pengungkit agar mainan-mainannya dapat berfungsi.

cewe di sebelah kanan yang pake topi item musti pegel-pegel memutar tuas di siang hari bolong (gapapa lah yah sis, ngegym gratis)

Tingalya

Seru yah ideanya, boleh nih diadaptasi buat festival Jakarta tahun ini.

*lihat foto paling pertama, saking semangatnya saya tiba di lokasi acara 30 menit lebih awal, ohh sungguh anak Indonesia yang rajin* 

4 comments:

  1. Ini kok kayak yg di pasar malem gitu ya :-p

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyah banget kak :) tapi kok kayaknya masih lebih rame pasar malam di Jakarta sih :))

      Delete
  2. Kak, misal nih ya...misal. Kalau aku yang naik Tingalya itu boleh gak sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. gpp sih kak, tapi syaratnya naik itu tuh nanti ditanyain namanya siapa sama berat badannya berapa, trus ditulis gede2 di papan tulis kecil lalu dikalungin di leher kak, liat deh fotonya *hororrrr bener kan*

      Delete

Thank you for comment :)